UA-89306807-1

Aku pada Bundaran Ci(n)ta

4 tahun kemudian...

Piyeung Datu tertinggal puluhan kilo meter di belakang ketika kuputuskan telepon dan memilih memarkir Kanaya. Bundaran tegu Blang Bintang seolah berkacak pinggang mananyakan 'ngapain?'.

Kualihkan pandangan pada kursi belakang dan merongoh isi tas sebelum kemudian putuskan keluar bersamanya. Kuambil sebuah tablet tapi keduluan hp mungilku berdering.

"Udah, adek udah sampai. Tapi Papa masih delay di Medan, Kak. Hmn, oke Kak. Ntar adek langsung otw ke hotel, kita bicarakan di sana. Ya, Kak. Wa`alaikumsalam." tutupku sambil berjalan menuju sebuah warung.

https://images-blogger-opensocial.googleusercontent.com/gadgets/proxy?url=http%3A%2F%2F4.bp.blogspot.com%2F-dWK3YjkYD2w%2FU33skzO8edI%2FAAAAAAAAAf8%2F-Sy29CSb8Os%2Fs1600%2FIMG_7792.JPG&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*

Aku sengaja memilih kursi depan jalan, berhadapan dengan trotoar, aku dapat menemukan bercak-bercak tanah liat yang ditinggalkan truk dibalik kacamata. Seorang Bapak menghampiriku, wajahnya masih seperti yang kutemui empat tahun lalu. Tapi aku tak yakin, ia mengenaliku. Walau seluruh temanku tetap bersitegang mengatakan, wajahku tidak ada yang berubah. Tetap mungil, lucu, dan menggemaskan. 

"Pak, bandretnya ada?" Aku penyuka minuman dengan racikan rempah.
"Ada. Mau pakai susu?" masih dengan pertanyaan yang dulu ia tawarkan, dan kutolak.
"Boleh, Pak!" Kali ini aku memutuskan menerimanya. Toh aku juga pernah mencicipi bandret ditambah susu dan rasanya juga nikmat.

Beberapa menit kemudian, istrinya datang sambil tersenyum. Tangannya membawa sepiring gorengan yang masih hangat. Kubalas senyumannya dan kutambah dengan sebaris kata, "Terimakasih."

Sebari menanti secangkir bandret susu, aku menopang dagu dan tiba-tiba teringat pada Abangku yang bekerja di bandara Sultan Iskandar Muda. Langsung saja kutekan nomor tiga untuk memanggil namanya hadir di depan layar.

"Yaa, abang dimana? Isni di depan bundaran Blang Bintang nih, nungguin Papa tapi masih delay"

Mukaku cemberut karena abang sedang menemani boss makan bersama klien. Huf! Aku menghela nafas di saat bersamaan Bapak menghampiri dengan secangkir bandret susu. Waah, aromanya tak tahan. Cemberutku lenyap seketika dan tak luput kukatakan, "Terimakasih, Pak."

Kutuangkan bandret ke dalam piring kecil yang ditaruh sengaja di bawah gelas. Masih panas. Aku memilih butir-butir kacang setengah gosong dari dalam air bandret lalu kumakan. Kucomot pisang goreng sambil menunggu Papa sampai. Mungkin sekitar tiga puluh menit lagi atau bisa jadi lebih, Papa baru dapat kucium punggung tangannya.

Duduk di sini, di bangku panjang. Aku terbiasa sendiri, jadi tak mengapa jika abangku tak bisa datang. Aku masih bisa bersama lalu lalang mobil dan kendaraan lainnya. 

Jalanan mulai sepi. Langit mengeluarkan rona gelap. Aku pun komat kamit mengirim doa semoga Papa dapat sampai dengan selamat. 

Dari kejauhan, pandanganku menemukan sosok wanita paruh baya sedang mengayuh lemah sepedanya. Memandangnya membuat kepalaku miring 15 derjat. Kutopang pipi kanan dengan tangan sesekali memastikan air bandretku tidak lagi panas dan menegaknya nikmat. Benar-benar mampu menghangatkan badan.

Perlahan tapi pasti, kayuhan sepeda wanita itu semakin mendekat. Tubuhnya tampak jelas dan lebih tua dari yang kuperkirakan sebelumnya. Aku meraih hp yang bergetar. Papa mengirim pesan!
Kak, Papa udah dalam pesawat.
Hatiku bersorak riang. Semoga cuacanya juga baik, dan Papa sampai dengan selamat. Hatiku mengucapkan aamin berkali-kali ketika kayuhan sepeda wanita tua itu semakin lemah dan ia jatuh di seberang trotoar tepa di depan posisi dudukku.

Innalillah!
Aku bangkit dan berlari menyeberang jalan menghampiri wanita tua itu. Membantu ia duduk di tepi trotoar sambil membersihkan debu yang menempel pada kain sarungnya. Aku memastikan keadaanya dengan bertanya, "Apa ada yang terluka?"

Ia menggeleng dan mengatakan terimakasih sebelum kutahan lengannya. Wanita tua itu memaksa diri mengayuh sepeda. 

"Ibu hendak kemana?" tanyaku tak tega membiarkan ia pergi begitu saja. Ia terlihat letih, sangat. Peluh di keningnya ia seka dengan ujung selendang kuning.

"Saya mau menjenguk anak di pesantren Modal Bangsa. Sudah sebulan saya belum ke sana." ceritanya dan aku paham masalah rindu yang ida dera.

"Kelas berapa anak ibu?" aku berbasa-basi berharap letihnya segera bergegas pergi.

"Kelas 3 dia,"

"Bagaimana jika ibu temani saya duduk di warung seberang, sebentar saja. Yuk, Bu"

"Jangan, Nak." tolaknya lembut dan kubalas senyum. Keriput diwajahnya menumpuk ketika tersenyum membalas senyumku.

"Ayo, Bu. Temani saya." Kurayu ia. Firasatku berkaa, ia tipe wanita yang tidak tegaan. Kupapah tubuhnya untuk menyeberang jalan.

"Sebentar!" Serunya seperti ada yang tertinggal. Ia merongoh tas kumal di bahunya dan mengeluarkan sebuah rantai lalu ia gembok sepeda tuanya. Bagiku, itu adalah sepeda tua yang dijual murah di pasar barang bekas. Tapi, baginya, itu adalah harta, yang harus dijaga, yang mengantarkan rindu ke peraduan.

Kami pun menyeberang jalan. Dugaanku lagi-lagi benar, ia adalah wanita yang ramah. Tanpa kuminta ia telah berceloteh tentan anaknya yang bernama Muhammad yang sudah hafal 13 juz. Muhammad adalah anak satu-satunya yang menjadi harapan dan tali bahagianya. 

"Muhammad dia anaknya pintar, dia bisa sekolah di Modal Bangsa karena beasiswa. Alhamdulillah. Benar kata Allah, Nak ya. Dimana ada niat, di situ ada jalan." Aku mengangguk membenarkannya. Memang benar adanya, dan telah kuteguk lepas dahaga pertanyaan-pertanyaan ambigu lalu.

"Paak," panggilku pada pedagang.
"Ibu mau pesan apa?"
"Jangan, Nak. Tadi katanya kamu minta ditemani" 

Waah! Si Ibu benar-benar deh. Pikirku.
"Tapi temani saya sambil minum ya, Bu?" cengengesanku kembali merayu menampakkan gigi tak rapi.

Akhirnya wanita yang bernama Maryam itu mengalah dan memesan teh hangat. Wanita itu lagi-lagi bercerita tentan Muhammad, sejak kecil ia sudah suka bertanya-tanya. Bahkan Bu Maryam suka kewalahan harus menjawab apa. Pasalnya, Bu Maryam hanya lulusan SD, baca tulis aja ia diajari Muhammad.

Mendengar cerita Bu Maryam, rasanya tak henti ingin kuhantarkan doa untuk Muhammad agar tak lupa akan cinta ibunya. Aku tiba-tiba ingin menulis sesuatu, berhubung dari cerita Bu Maryam, Muhammad juga suka membaca. Kenapa aku tidak menulis sesuatu untuknya?

Aku meminta izin kepada Bu Maryam untuk menuju mobil Jazz silver yang merupakan buah niat dan diridhaiNya. Kubuka pintu belakang, dan kuambil sebuah buku tulis dan sebuah amplop putih.

Aku kembali di samping Bu Maryam sebelum menghampiri Istrinya pedagang gorengan dan memesan gorengan untuk dibungkus.
"Lapisang korannya di doblelin ya, Bu. Terus, plastiknya dilapis dua. Biar tetap hangat. Makasih ya, Bu." pesanku selanjutnya kembali duduk di sisi Bu Maryam.

"Bu, saya suka menulis. Saya ingin menuliskan sesuatu untuk Muhammad, boleh Bu?"

"Boleh, Nak. Muhammad pasti akan membacanya"

Aku pun menggores pena,
Salam, Muhammad. Saya sedang duduk bersama ibumu. Ia menceritakan banyak hal tentang kamu, Dik. Tetap jadi anak yang membanggakan ya. Jaga prestasinya, dan terus perketat hafalannya. Oya, jangan pernah lupakan ibumu ya, Dik. Jasanya, cintanya, dan doa yang ia hantarkan. Kakak akan mendoakanmu, semoga kamu terus ukir prestasi. Oya, boleh kan lain waktu kakak mengirimkan surat untukmu? 
Salam dari saya, Isni Wardaton.Kuselipkan beberapa dalam amplop bersamaan dengan surat. Aku sebenarnya ingin menuliskan lebih banyak, tapi toh aku telah berjanji padanya mengirim surat lanjutan. Si Bapak datang dengan menyodorkan seplastik gorengan yang juga kuserahkan kepada Bu Maryam yang awalnya ia tolak.
"Makasih, Nak. Semoga langkahmu senantiasa di lapangkanNya."
"Selamat iman, Bu" godaku minta didoain lebih.
"Iya, selamat iman, dimudahkan rezeki"

"Aamin" sorakku kemudian memeluk Bu Maryam dan mengantarnya kembali menuju sepeda. "Salam dari saya untuk Muhammaad, katakan padanya, ketik nama saya di google, pastikan ia menemukan wajah ini Bu" lagi-lagi aku menggoda wanita tua itu yang dibalas dengan pukulan ringan pada lengan yang masih saja kurang isi.

"Waa`alaikum salam, Bu" Aku melambai tangan. Senyumku terkatup rapat seketika menganga, hp mungil yang kugenggam erat bergetar dan nama Papa melongo di sana.

"Kakak dimana?" 

Baca juga episode selanjutnya Kayuhan Rindu 'Mak'


3 komentar:

  1. Perasaan kami udah komen, tapi kenapa gak ada?

    BalasHapus
  2. Hihi, udah kami perbaharui, Kak. Soalnya ganti judul ga bisa perbaiki link. Hhehe ^^

    BalasHapus
  3. sangat indah untuk dimengerti, good

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers