UA-89306807-1

Kayuhan Rindu 'Mak'

Baca episode sebelumnya 'Aku pada Bundaran Ci(n)ta'


Aku mengintip dari jendela kamar. Biasanya seseorang akan berlari dan mengabarkan berita yang kutunggu. Seharusnya ia telah datang seminggu yang lalu. Dan sebanyak tujuh hari dalam seminggu itu, aku menunggu kedatangannya dengan cara yang berbeda. Jika aku sedang piket, sesekali melirik pintu pagar dan mencari kayuhan rindunya.

Aku paham, kenapa jika ia telat datang. Berbeda dengan santri lainnya, hampir saban hari. Maka, hampir tiap kali ia datang, tak sekalipun aku bertanya, kenapa?

Ia akan menarik ubun-ubun kepalaku dan mengecupnya di sana. Lalu kupeluk tubuh rintihnya dan menangis di sana. Membayangkannya, aku semakin rindu.

Seharusnya, ia telah tiba.


Apa musim padi menahanmu? 

Ia tak suka aku keluar dari pagar hanya untuk melepas rindu ini. Katanya, aku harus membaca sebanyak yang aku bisa. Kutarik buku pelajaran yang sudah habis kulumat. Menaruhnya kembali, dan sesekali melirik lewat jeruji jendela kamar. Ia belum datang. Aku menghela nafas dan mengambil sebuah mushaf tua pemberiannya. Katanya, itu mushaf milik almarhum kakek.

Aku keluar dari kamar dan memakai sendal jepit. Mengapit kain sarung merah bata ketika menurunin anak tangga. Waktu ashar akan tiba, aku mengarahkan diri pada mesjid dan mengambil wudhu` lalu memilih posisi paling sudut. Membuka mushaf, dan membacanya tanpa sadar panggilan azan menyadarkanku.

Aku sekarang termenung di anak tangga. Tangga yang menghadapkanku pada langit, aku sedang rebahan dan mengukir senyumnya pada gumpalan awan putih. Ia berkata, aku harus menjadi anak yang baik. Tapi aku bingung, baik seperti apakah itu?

"Akhi Muhammmad, Akhi Muhammad..." panggil Jihan, adik kelasku. 

"Ya, Jihan?" Aku berharap ia mengabarkan berita yang kutunggu.

"Mak, akhi datang!" Mataku berbinar. Kutancapkan kopiah lusuh di kepala dan berlari sambil memeluk mushaf. Tapi aku berhenti dan berbalik, memandang wajah Jihan yang tersenyum pada punggungku. Ia sudah seperti adikku.

"Syukran, Jihan! Assalamu`alaikum" aku mengangkat tangan dan senyumnya semakin lebar dalam jawaban salamku.

Beberapi menit lalu, halaman ini lapang. Namun, sekarang dipenuhi dengan beragam jenis kendaraan. Mobil mewah, sepeda motor dengan berbagai merek. Aku mencari sepeda tua Mak. Terpakir memeluk pohon kelapa, paling sudut menghadap utara. Aku mengambilnya, dan duduk di atas tila kemudian mengayuhnya keliling Dayah. Inilah caraku mengekspresikan rindu.

https://images-blogger-opensocial.googleusercontent.com/gadgets/proxy?url=http%3A%2F%2F4.bp.blogspot.com%2F-ZsONEymSBUc%2FU4BYOuG9KcI%2FAAAAAAAAAgM%2FdkDMMAdCs9Q%2Fs1600%2Fsepeda.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*
Sumber: Google
Tangan Mak melambai. Ia duduk di sebuah kursi bersama beberapa sahabat karibku. Mereka menerikkan namaku, Muhammad, Muhammad, Muhammad. Aku menikmati, bahagia itu sederhana.

"Akhiii" panggil Maulana, adik kelasku yang penglihatannya setengah buta. Ia memberi tangan kanannya minta kusalami, aku salut padanya, indranya sering benar. Seolah ia dapat melihat kalau aku akan segera melaju di hadapannya.

"Tuuan, Maulana" Aku menyambut tangan kecilnya dan turun dari sepeda, juga menyalami kedua orang tuanya. Maulana dan aku akan ikut lomba qari` bulan depan. Aku mengusap kepalanya sebelum berpamitan pada ketiganya.

"Maak, assalamu`alaikum, Mak" dari jauh aku telah memanggilnya. Ia cium ubun-ubun kepalaku, pipiku, dan ia peluk tubuhku yang bisiknya, aku semakin gagah.

Ia menyodorkan seplastik gorengan. "Bukalah, nak" kata Mak pada sahabat karibku yang juga menanti cerita yang akan Mak bagikan. Kami membuka seplastik gorengan, apakah ini hadiah dari rindu?

Aku membelah pisang goreng yang masih hangat karena dibungkus dengan rapi. Aku menyuapi Mak setelah kubacakan basmallah. 

"Nak, Mak bertemu dengan seorang wanita di depan bundaran Blang Bintang. Ketika Mak terjatuh di seberang jalan, ia berlari dan membantu Mak. Itu hadiah darinya untukmu. Mak ceritakan tentangmu dan da menyukai cerita Mak."

"Jangan-jangan...." sahut sahabat karibku.

"Huush!" senggolku pada lengan Raji.

"Dia mungkin berusia dua puluh lima tahun, atau bisa jadi lebih muda. Mak lupa bertanya." lanjut Mak.

"Mak, bagaimana kabar rumah?" Aku kurang tertarik dengan cerita Mak. Dalam hati, aku ingin sekali berterimakasih padanya telah menolang Mak. Ia terlihat bahagia dengan pertemuan singkat tadi, tapi, pertemuan itu telah membulatkan rindu ini purnama. Mungkin, aku sedikit cemburu padanya, ia dahulu bertatap muka dan menikmati kesehajaannya. 

"Baik. Rumah masih di tempat semula. Belum berpindah." lelucon Makku benar-benar kurang harmonis. Sepertinya ia mengenali. Yaa, dia kan wanita yang melahirkanku. Pastilah ia tahu, aku rindu padanya.

"Maak! Ceritakan sesuatu!" rengekku.

"Tentang?"

"Bau periuk di rumah kita, warna atap rumbia."

"Bukankah bulan lalu Mak telah ceritakan tentang aroma periuk dan warna kehitaman atap rumbia?" Mak melotot. Aku kesal. Pasalnya, aku sendiri tidak tahu apa yang sebanarnya ingin kutahu darinya. 

"Muhammad" panggilnya lembut.

"Ya, Mak"

"Ingat pesan Mak?"

"Ingat, Mak"

"Apa?"
"Cemburu membutakan hati"
Mak tersenyum. Tangan kerasnya membelai tanganku yang mulai kekar. "Mak paham, Muhammad menunggu Mak. Mak minta maaf..."

"Tidak, Mak nggak perlu minta maaf. Mak, jangan mintaa maaf. Muhammad yang minta maaf pada Mak. Maafkan Muhammad, Mak!" seduku mencium punggung tangannya.

"Ia, Mak maafkan" ia balas mencium tanganku. Ia letakkan pada kedua pipinya silih berganti. "Wanita itu, ia gadis yang ceria. Memandang matanya menceritakan kisah yang ia simpan dan ditutup rapat. Ia membungkus diri dengan keanggunan. Mak ingin kamu sepertinya. Pekalah terhadap sekitar." ungkap Mak dan kuselami maksudnya.

Aku tak mengerti maksud Mak. Apa yang ia lihat dari dalam mata wanita itu. Tapi aku kali ini mengiyakan. 

"Ini untukmu dari wanita itu" Mak menyerahkan sebuah amplop kuning.

"Ciie ciee... surat cinta" sorak sahabat karibku, Raji. Ia hanya akan berkoar jika menurutnya 'baru'.

Aku memicingkan mata pada Raji. 

"Kemari kemari Nak..." Mak memanggil teman-temanku ikut mencicipi gorengan. Raji beranjak dari kursi untuk mengambilkan air minum. Aku menatap seplastik gorengan yang masih hangat. Kira-kira jam ia bertemu dengan Mak? Pikirku sambil memandang gorengan.

"Nak, melamun kamu Muhammad?" Akhirnya, Mak cemburu pada lamunanku.

"Lamunin, Mak" gombalku tak peduli mulutku penuh kunyahan pisang goreng. Aku tertawa memamerkan polah kanak-kanak, walau aku ingin segera dewasa dan membawa Mak naik haji. Insyaallah, Aamin.


0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers