UA-89306807-1

Kenapa "No Coment!"?

Selamat sore dan semangat dalam beraktivitas!
Terimakasih untuk teman sekalian yang telah meluangkan waktunya membaca postingan kali ini.

Kali ini saya akan membuka sebuah kedok. Kesalahan yang saya lakukan untuk memperoleh informasi.

Sumber: google

Jadi, kan kemarin itu saya lagi hebringnya plus ngotot kudu ikutan lomba blog Zombiegaret. Yang mana, saya dalam cerita 500 kata menjadi seorang perokok aktif yang menjadi mayat hidup karena kebanyakan kosumsi rokok.
Tentu saja saya tidak merokok. Saya paling sensitive dengan asap rokok. Bahkan, saya dapat mengenali apakah dia perokok atau bukan. Tapi, saya tidak tahu apa-apa tentang ‘kenapa harus rokok?’.

Maka kasak-kusuklah saya mencari narasumber. Jrenng greeeng… radar saya berkedip-kedip.

Abang!

Maaf nih ga sebutin nama berhubung dia adalah saudara saya sendiri. Maka langsung saja saya meriahkan wall akun fb-nya dengan mengirim link lomba Zombiegaret. Tak lupa memasang penuturan sebaik mungkin. Hihi biar sudi kiranya dibagikan ide gituh.

Satu jam tanpa respon.
Dua jam…
Sehari…
Dua hari…

Maka berpikirlah saya. Why?

Tumben si abang nggak ngerespon. Biasanya doi yang paling semangat kalau bagian ide, apalagi menambah wawasan baru. Nah, lho? Ini, apanya yang salah?

Hari selanjutnya, kita jumpa di taman Putroe Phang. Langsung saja saya todong dengan sebilah pisau yang sudah saya asah beberapa hari lalu. Nyatanya pisaunya masih saja tumpul, eeh… maksudnya saya todong si abang dengan permintaan yang sama.




“Bang, bagiilah informasi”
“Informasi apa?”
“Yang adek kirim link di akun fb”
“Oh, itu!” tangkasnya memutar langkah. “Kalau tentang itu abang no coment!”

Waaaa… maka kerucutlah muka saya. Tumben no coment, biasanya komentarnya juga beranak sungai.
Saya rayu , saya merengek. Tapi nihil! Abang kekeh dengan “no coment”nya.

Huf!

Hari berlanjut, kesibukan datang lagi datang pergi. Saya sempat terpacu menulis tentan Zombiegaret tapi deadline berlalu tanpa sempat ikutan karena kagak sempat edit. Huhu…

Dan, hari ini. Pagi tadi, ya nelpon si abang. Biasa, kalau lagi pikiran mampet. Si abang tuh kuncinya! Paling bisa bukak pikiran saya! Dan, mengalirlah cerita saya. Termasuk, tidak menang lomba blog pariwisata Aceh, juga menceritakan tidak jadi ikutan lomba Zombiegaret.

Giliran bahasan tentang Zombiegaret, si abang akhirnya komentar.
“Adek tau kenapa abang nggak mau komentar tentang lomba Zombiegaret?”
“Enggak” sorakku lugu.
“Gini dek!” mulai niih mulaai doi bakal buka pikiran saya dengan kunci super duper besar. “Misalnya adek mau nulis tentang penyakit kangker, trus adek jumpai pasien kangker, dan adek nanya kepada mereka yang mau mati dengan pertanyaan, ‘bagaimana rasanya menderita penyakit kangker?’, ‘penyakit itu kan mematikan, kenapa anda bisa menderita penyakit itu?’. Dia mau mati, dan adek tanyai gitu pada mereka. Gimana, dek?”
“Jahat kali, adek!”
“Nah! Gitu!”
“Jadi, adek udah jahat lah nanya gitu sama abang” saya ternganga dan si abang tertawa khasnya membuat saya ikut tertawa. “Weew, jahat kali adek udah nanya gitu”

“Abang nggak bilang gitu ya dek, tapi gitulah, haha" tawanya menggelegar.
“Terus pas adek tanya gitu, gimana perasaan abang?”
“Yaa, abang pikir adek pasti nggak tau, dan yaa… ada baiknya juga. Makanya abang no coment tentang itu.”
“Iya, iya… adek paham sekarang. Hahaha, ga tau adek bang!”

“Seharusnya, adek bertanya kepada mereka yang sudah berhasil melaluinya. Pada mereka yang sudah sembuh” lanjutnya.

“Abiis mereka pada nggak mau komentar juga,” alasanku. Hhahaha
“Bahkan, pada mereka yang sakit, kita yang mengunjungi saja tidak dibenarkan membicarakan tentang hal-hal yang dapat merusak suasana hati. Kita disarankan untuk menyemangati dan mendoakan mereka agar segera sembuh. Gitu, dek!”
“Iya, Bang. Makasih yaa. Kiarin kenapa abang tumben no komen” berkata sambil cengengesan gedek-gedek.

Udah, udah… intinya gitu deh. Untuk teman sekalian, jangan ikutin kesalahan saya ya. Saya bertanya kepada orang yang tepat, sangat tepat malah! Syukurlah ia abangku dan memaklumi adeknya yang rada Oon ini.

Lain kali, mau nanya-nanya, selektif dulu pada siapa. Jangan sampai mereka tersakiti dengan pertanyaan kita, walau niat kita baik. Oke, sob?


Selamat beraktivitas kembali. ^^

2 komentar:

  1. Pelajaran berharga ya.. :)
    Wah unik sekali pengalamanmu kali ini.

    Semoga kamu bisa berhasil di lomba menulis berikutnya ya..
    Salam kenal kembali dari Sanz Yu..

    BalasHapus
  2. Iyaa, alhmdulillah diingatin jd lain kali bs lbih hati-hati. ^^

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers