UA-89306807-1

Rivai, Nana & Lana


"Mantaap!" ancung Rivai membelakangin tubuh Nana. Dibalik kerudung hitam yang digunakan Nana, ia hanya diam. Tangan kanannya meremas gulungan kertas. "Na! Udah bisa ganti kostum, kita makan-makan." lanjut Rivai kedua tangannya bertepuk keras dan mengatakan hal serupa kepada rekan lainnya.

"Vai, kamu kira aku acting?" Rivai mengerutkan keningnya. Ada lima lipatan di sana memberi lekukan pada wajahnya tampak menua tiga tahun daripada Nana. "Aku serius, Vai!" Nana membalikkan tubuhnya dan kini wajah merahnya semakin terekam jelas di sana. Ada bekas gincu yang bercampur air mata dibiarkan menodai kulit putihnya.

"Maksud kamu, Na?" Rival mendekat ketika rekan kerjanya satu persatu meninggalkan mereka.

"Kita harus pergi, Vai! Sekarang, Vai!"

"Ke mana?"

"Menjemput Lana."

"Lana?"

Nana diam.

"Na, Lana kenapa?"

Nana diam.

"Na! Jawab! Lana kenapa?"

Nana menarik nafas dan perlahan ia keluarkan. Ia seka air mata merahnya kemudian tersenyum.

"Lana baru saja pergi, Vai!"

Rivai mengguncang tubuh saudaranya yang berbadan ramping. Nana hanya tersenyum kecut. "Jangan bercanda, Na!"

"Kamu sendiri yang nulis naskahnya. Kamu bukan Tuhan, tapi lihat saja apa yang terjadi. Terjadi, Vai! Adik kita, Vai!"

5 komentar:

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers