UA-89306807-1

Kado Bisu dari Papa

Sebelumnya, silakan baca episode 1, dan episode 2 agar nyambung. ^^

Selamat membaca. Ditunggu kritik dan saran. ^_^
________________________________________

Papa tersenyum padaku. Aku merasakan ia ingin membuka kedua lengannya lebar-lebar dan mendekapku penuh rindu. Sebulan penuh ia di Bali cukup untuk mengatup kedua bibir dengan kata-kata. Tapi, ia menatapku dalam. Kuambil tangannya dan kucium punggung tangan dan dibalas usap kepalaku penuh rindu. Aku memang bukan anak kandungnya, tapi darinya juga kurasakan tulus cinta seorang ayah.

"Kenapa nggak minta dijemput Abang aja, sih Pa? Anak Papa sebenarnya Intan atau..." kugantung kata sambil menarik lengan koper. Intan adalah panggilan keluargaku. Bagi ibu dan ayah, aku adalah intan, kecil tapi berharga.

Papa tersenyum, tapi kali ini gigi rapi dipamernya. Oke, itu yang bakal buat seluruh klien Papa tidak mengira aku adalah anak kandung Papa. Karena gigiku tidak rapi. Papa pun tertawa kemudian berkata, "Haha... Kita harus bikin si Abang mau nyetir dulu." Aku tepuk jidad. Pertanyaanku konyol karena percuma, Roby anak pertama Papa yang rada maskulin enggan belajar nyetir. Baiklah, nanti lain kesempatan akan kuceritakan tentang Roby, Doni, Kemal, dan Mama Mia istri tercinta Papa.

"Hahha... lupa Intan, Pa!" ujarku sambil angguk-angguk kepala. "Ayok kita langsung ke mobil, Pa."
"Yok. Intan nggak mau minum dulu?" tawar Papa melirik cafe yang ada di bandara. Cafe itu ramai dan aku menggeleng.

"Udah tadi Pa, sambil nunggu Papa. Tapi kalau Papa haus, boleh, Intan temanin."
"Nggak, Papa nggak haus kok. Kita langsung pulang, Mama pasti udah nunggu Papa di rumah."

"Iya, Pa! Maaf ya nggak bisa ajak Mama, karena Intan dari Piyeung, jagain Cecek sakit."
"Iya, nggak apa. Kan Intan udah bilang sebelumnya."
"Makasih, Pa"
"Papa lho yang harus berterimakasih."
"Hehehe sama-sama terimakasih nih kita" kami sama-sama tertawa.

Awan gelap sepertinya mengejarku. Ia menggumpal di langit luas, tak lama kemudian rintik menyentuh kulit. Aku menengadah ke atas dan terlihat gumpalan awan hitam sedang memayungiku.

"Kak, masuk ke mobil langsung. Biar Papa yang angkat koper." seru Papa menyadari firasatku. Aku patuh langsung masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian hujan pun turun. Aku melirik Papa lewat kaca spion. Papa terlihat kecil di dalamnya sedang berlari dan bayangan Papa menghilang.

Bhuk!
"Hahaha, Kakak cari siapa hayooo."
"Waah Papa kerjain Intan nih" Aku cemberut, Papa sengaja mengendap-endap dan masuk ke mobil.
"Hahaha," tawa Papa sambil menyalakan mobil dan kami siap untuk pulang ke rumah.

****


"Intan, duduk sini dulu, Nak!" panggil Papa setelah satu persatu anak-anak Papa bubar dengan memeluk oleh-oleh. Mama tetap di sofa, menyeduh teh hangat di sisi Papa. Sesekali Mama terlihat memandang Papa sambil tersenyum-senyum sendiri. Aku melihatnya hanya dapat mengatup kedua bibir rapat.

"Oleh-oleh untuk Intan ya Pa?" ujarku yang telah duduk di sofa samping sofa Papa dan Mama.
"Maunya, oleh-oleh atau kado ulang tahun?" kata Papa dan Mama yang disisi terkejut.

"Intan ulang tahun? Tanggal berapa hari ini?" Mama melirik ke arah Papa yang tersenyum. "Intan! Ini harus dirayakan!" seru Mama bersemangat.
"Ah, nggak perlu Ma."

"Harus! Papa pulang dan Intan ulang tahun." Mama ngotot, ia berdiri menepuk-nepuk baju dasternya karena ada bekas roti. Mama tersenyum kemudian menepuk pundak Papa dua kali sebelum wanita paruh baya itu menarik celemek di dapur.

"Abaaang. Mama kehabisan bawang Bang!" Mulai deh, mulai deh si Mama heboh.

Sedangkan di sofa kami tertawa cekikikan karena aungan suara Roby merasa ingin berontak.

"Ini untuk Intan. Selamat dan panjang umur, Nak!" Aku mengambil kado dan mengucapkan terimakasih banyak. "Bukalah" pinta Papa yang kuturuti. Boleh dibilang, aku anaknya penurut, mungkin itulah yang membuat pria dan wanita di rumah ini menganggapku anak perempuan mereka satu-satunya.

Kusobek kertas kado bercorak pohon kelapa. Jadi ketahuan deh kadonya sekaligus oleh-oleh dari Bali. Hehe... tapi, perasaanku berkabut ketika melihat isi dibalik kertas kado. Aku menatapnya dengan tatapan kosong. Kenapa?

"Kenapa, Intan?" Papa mencoba mencari jawaban di balik rundukku.
"Nggak apa, Pa. Makasih ya Pa" ucapku masih merunduk menatap cover buku merah jambu.

"Ya, Nak. Sudah waktunya, tunggu apa lagi?"

Apa? Yang barusan Papa katakan? Aku terkejut dengan kata-katanya tapi tetap kuhindari menatap wajahnya. Aku nggak mau ia melihat aku kurang, bukan tidak, tapi aku kurang menyukai kadonya kali ini.

"Intan..." panggil Papa karena aku tak memberi suara apa pun.
Kueja satu persatu kata yang terukir di sana, seolah Papa benar-benar mengatakannya secara tak langsung. Anakku, Menikahlah!

Batinku mengomel keras. Kenapa ada orang yang ngakunya penulis dan menulis buku dengan judul sekampungan itu. Hei! Kamu kira kami bakal membeli? Melirik pun tidak!

Tapi baiklah, sepertinya aku paham sasaran pembeli yang ia tuju. Salah satunya pria yang masih menunggu suaraku. Papa.

"Intan, nggak suka ya kado Papa?"
Jangan, Pa! Jangan lagi ditambah kata-kata iba itu.

Akhirnya kuangkat wajah dan berusaha tersenyum untuknya dan berbohong dengan mengatakan aku menyukai bukunya dan berjanji akan membacanya. Tapi, aku bahkan tak berniat mengintip buku itu terbitan tahun berapa.

Lekat masih kupandang. Penuh benci seperti saban Minggu pemuda dengan kaos berkerah mengetuk pintu rumahku. Lalu suara Ibu memintaku keluar membuatkan minum. Sepertinya ia tak pernah bosan dengan teh tawar yang kutawarkan padanya.

Paham nggak sih? Kalau tawar itu artinya aku nggak ada perasaan! Sorak batinku sambil mengangkat secangkir teh untuknya yang disambut riang.

"Hoe meujak, Intan. Duek inoe."*Mau kemana, Intan. Duduk di sini. Ibu lagi-lagi menahanku dan ia meninggalkan kami berdua.

Aku tak mau menatap wajahnya. Ia menyeduh teh panas yang kuyakin mampu membakar lidahnya sekali pun berharap itu kunjungan terakhir kalinya. Walau aku nggak yakin ia kapok bertandang ke gubuk ini.

"Intan! Ibu sudah merestui, kita menikah setelah kamu ambil ijazah ya!"
Aku melotot. Bola mataku seakan sudah berenang dalam cangkirnya.

"Oi! Jangan gilak! Siapa juga yang mau nikah sama kamu. Suka aja enggak!" kutinggalkan ia tanpa berpaling.


Handphone Papa berdering. Pikiranku kembali karena Papa berteriak, "Apa? Bagaimana bisa! Cek CCTV!"

"Pa, kenapa, Pa?"

8 komentar:

  1. Mantap kaliiii Isni. Masih bisa dilanjutkan ceritanya. Kayaknya bisa jadi novel Isni

    BalasHapus
  2. Smoga semangat menulisnya tetap solid sampai ending. :D

    BalasHapus
  3. Bahasanya keren ka ceritanya juga, dan terutama kadonya,hehe

    BalasHapus
  4. Dubrakkkkkk! Langsung pingsan kk. Haghag...

    Jgn lupa kasih kado utk kk bsok ultah yaakk. #ngarep XD

    BalasHapus
  5. Reza kasih kado doa aja ka biar cepat dpt jodoh, *baik banget rezakan :) bangganya bsa berbuat kebaikan.

    BalasHapus
  6. Penutup nya cukup buat penasaran ntu ka, d tunggu sambungannya,nnti blg2 ya ka kalau sambungannya da keluar. :)

    BalasHapus
  7. Hahaaha Reza emang baik, yang tulus ya doanya. XD
    #maksud :l

    Penasaran kan penasaran kan?
    Oke, Insyaallah. Dtggu klnjutannya. ^^

    BalasHapus
  8. Wuih... seru!
    Ditunggu lanjutannya!

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers