UA-89306807-1

Perkara Bicara dalam Dekapan Ukhuwah

Tuhanku, berikanku cinta yang kau titipkan bukan cinta yang pernah kutanam.

Jujur, selama tiga hari di Sigli bersama keluarga sederhana Junaidah, sahabat tercinta yang telah membuka banyak jendela, hingga cahaya yang dulunya redup kini berpendar. Junaidah Munawarah, aku mengenalnya sejak 2012. Tapi, ukhuwah kami terasa ketika hari-hari sulit menjilid kami pada satu lembar diary. Sedih dan ruah air mata menampung masalah, ketika yang lain menjauh, kami merapat dan saling menguatkan.

#friendship
#happy wedding Junaidah sayang
^^

Awalnya aku tak paham dengan rencanaNya yang selalu saja ketika tersadar, syukur dan air mata tumpah. Aku ingat sekali ketika kami hanya saling kenal dalam organisasi. Disaat kami mulai berbincang lewat pesan singkat dan sesekali lewat telepon, kami ternyata belum berteman di akun facebook.

Hari berlanjut, dan ukhuwah kami semakin terjaga. Mula saling percaya dan menjaga. Ada banyak yang kuterima dari sosoknya, bukan hanya cinta tetapi, (aku mencoba menghitung) tak terhingga.

Beberapa yang dapat kuceritakan padamu, kepercayaan itu mahal. Ketika usiaku 19th, aku kehilangan seorang sahabat karena menghilangkan kepercayaannya. Hingga hari ini, aku masih kehilangannya walau kucoba tutupi dengan pembenaran, tetap saja, aku jauh dari kabarnya.

Kau tahu dan aku juga. Kita sama-sama tahu, tapi sulit untuk menyelaraskan ketahuan tersebut. Kau mengerti maksudku? Misalnya ketika orang di sampingmu bercerita tentang dirinya, dan entah kapan dan kenapa kamu (mungkin tak sengaja, aku juga) menjawab pertanyaan orang lain tentang kabar yang mungkin temanmu hanya ingin 'cukup sampai padamu'. Secret.

Bersama Junaidah aku belajar memahami maksud dari tiga perkara bicara; ada yang bisa diceritakan, ada yang tidak bisa diceritakan, dan ada yang bisa diceritakan setelah semuanya berlalu.

Aku dikenal polos dan lugu. Antara bodoh dan apa adanya. Itulah kenapa aku merasa haru atas pertemuan dan ukhuwah ini. Walau tetap saja sulit menjaga lidah, terutama ketika otak berkerja mencari alasan dan berpikir keras apakah yang harus aku katakan ketika pertanyaan dilayangkan.

Aku mengerut ketika teman-teman kerap mengusiliku dengan berusaha mencari cela untuk tertawa, well karena keseringan aku memberi jawaban apa adanya yang you know, jika aku tidak bisa menceritakannya, seharusnya aku berlelucon saja! Sayangnya aku tidak pandai dalam mengelak lewat lelucon.

Tapi, hidup ini bukan lelucon.

Aku sulit membedakan apa yang diinginkan oleh penanya, bahkan mereka sering bersamaku dan baiknya mereka tahu aku tidak pandai dalam berlelucon. Tapi, bersama Junaidah, tawa kami jernih dan sedu sedan kami terasa ringan. Walau awalnya aku terkadang mendengar tawa yang seperti dibuat-buat, tapi lama bersamanya aku mengerti ya begitulah Junaidah dalam menghargai leluconku.

Ada rasa bahagia ketika kita dipercaya, apakah itu pada organisasi atau dalam pertemanan. Juga, selama di rumah Junaidah aku suka sudut pandang Ummi Junaidah tentang cara menanggapi tirai yang bernoda dalam kamar pengantin.

Rutinitasku selama di rumah Junaidah, selain menemaninya sebagai dara baro (pengantin baru), aku tak bisa berhenti bernyanyi, 'Tuhanku, berikanku cinta yang kau titipkan bukan cinta yang pernah kutanam'. Hanya lirik itu yang kuhafal, dan aku seperti tak henti dalam berdoa. Jujur deh, aku merindukan cinta yang dititipkanNya pada seseorang.

Cerita-cerita Junaidah membuka pikiranku tentang mengenali cinta. Awalnya aku masih keliru, dan akhirnya aku dapat memahami cinta seperti apa yang benar. Karena sebelumnya salah, karenanyalah tersesat seperti berada dalam bundaran hitam.

Bukan berarti Junaidah sendiri memahaminya tanpa pernah salah, karena pernah salah lah kita mengenal seperti apa benar itu. Ketika 'paham' itu benar-benar terasa, maka rayakan cintamu bersamaNya. 

Subhanallah. Junaidah, jika ia berkata tak mampu balas kebaikanku yang tak apa-apanya, bahkan sebenarnya akulah yang mengatakan demikian, dengan kehadirannya di sisi ini. Mungkin, jika tanpa Junaidah, aku masih saja berputar-putar pada bundaran hitam. Mencoba ke sana tetapi tetap di sini. Sekarang, langkahku terasa lebih ringan. (Tersenyum)

Bukan berarti kami sudah benar. Kami hanya terus mencoba memahami dan terus belajar, semoga Allah mudahkan hati kami dalam menerima 'kenapa' dan 'bagaimana'. Bahkan, aku sendiri masih suka lupa dan semoga Junaidah dan teman sekalian tak segan ingatkan.

Huf.

Rasanya lega sekali sahabat tercinta telah bersama orang yang semoga jadi pilihan terbaikNya. Barakallahulakuma wabaraka `alaikuma wajama`aka bainakuma fii khair, Junaidah dan Bang Dedi. ^^
https://images-blogger-opensocial.googleusercontent.com/gadgets/proxy?url=http%3A%2F%2F2.bp.blogspot.com%2F-HnQ1wX70g2A%2FU6g8jM3Q-dI%2FAAAAAAAAAik%2Fuer6BJmGcs8%2Fs1600%2Fsambut%2Blinto.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*
Dara baro sambut linto 
Doakan Isni segera dipertemukan dengan cinta yang dititipkanNya. Aamiin. :)


6 komentar:

  1. Amiiin...
    Hiks, terharu kami Dek.
    Insya Allah, yang terbaik, pada waktu terbaik ^^

    BalasHapus
  2. Semoga Isni juga cepat menyusul ya, Amin Ya Rabbal'alamin :))

    BalasHapus
  3. menyejukkan :) Ada Cinta Penuh Makna dbalik prsahabatan prsaudaraan yg mengesankan menjadikan keluarga, saling memiliki satu sama lain,

    hihiihihi lg ngebayangin saat2 kk Isni & Junaidah nya udh smsn, telponan, trus siap tu bru sama2 trsadar tntg prtemanan di facebook nya, hihiiihi pasti btul2 brkesan....

    BalasHapus
  4. Memang bendum sekum dimana2 dekaaat bingits :D #pengalaman di HIPISA :)
    selamat menjadi pengantin ya jujun sayg, mudh2an tertular ama yg disampingnya #kode. yg kemarintu gimana dek? #kenalempar! :D

    BalasHapus
  5. Terimakasih ya teman-teman sudah main ke blog Isni, juga atas doanya. Smoga teman sekalian dalam keadaan sehat wal afiat selalu. Aamin. ^^

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers