UA-89306807-1

Kamu Harus Mencintainya. Itu Harus!

Kali ini tentang ibuku. Aku memanggilnya, Mak. Jika kamu mencintaiku, kamu harus mencintainya. Itu harus. Seperti yang kulakukan pada ibumu yang kuanggap ibuku.

Mak memang tidak pernah berkata kepadaku untuk menganggap setiap wanita yang menjadi ibu dari teman, atau orang yang kutemui, aku harus memperlakukannya seperti memperlakukan Mak. Tidak, Mak tidak mengatakan itu. Mak adalah tipe ibu yang tidak pandai dalam mengajar. Mak hanya lulusan SMEA yang pintar matematika. Dan bukan salahnya jika aku melakukan kesalahan. Tapi aku hanya ingin Mak juga diperlakukan sama oleh temanku atau orang yang menjumpainya, mungkin suatu hari aku tidak di rumah. Aku hanya ingin, Mak baik-baik saja.

My beloved Mom and Dad
^0^
Mak memiliki kepribadian yang unik. Jika kamu mengenalku yang jarang marah, aku sebenarnya adalah pemarah yang cenderung diam jika sedang bad mood. Oke, aku mengaku, kalau aku tidak pandai dalam marah-marah. Aku akan marah untuk mengeluarkan emosi, begitu emosi terkeluarkan aku akan tertawa. Itu tidak singkron. Hei, itu pemarah yang buruk. Tapi aku hanya dapat menyembunyikan muka setelah marah, itu karena aku ingin tertawa. Betapa aku tidak percaya diri untuk marah. Tapi, sebelum aku tertawa, kamu akan melihat betapa mengerikan jika aku marah. Kata seseorang yang pernah melihatku marah, 'Isni kalo marah nggak pandang bulu... main banting-banting aja.. ' 

Really. Saat itu aku benar-benar membanting hp, selanjutnya semua mata tertuju padaku dan mereka tak percaya aku melakukannya. Well, aku masih hidup sampai sekarang.

Tapi, Mak, ia adalah ibu yang pintar dalam bidang marah. Ia suka memarahiku. Mak suka memarahiku yang cuek dengan kebersihan, aku yang berusaha menjelaskannya bahwa pekerjaanku menuntut buku-buku berserakan. Mak akan mengulang haditsnya dan ia seperti sedang bertilawah dengan suara paling merdu menghitung kemalasanku.

Aku ingin mengatakan kepadanya, 'Mak, aku nyaman dengan kamarku. Jika ia terlalu bersih, aku seperti menyisakan banyak ruang untuk mengotorinya kembali.' 

Dan yang membuat aku mencintai Mak, setelah ia mengomel panjang lebar, hampir saban malam dan siang hari ia terlelap di kamar, tepatnya di ranjang aku sedang menulis postingan ini sambil memeluk bantal gulingku. Ia bahkan sering berkata dan aku menguping, Mak nyenyak tidur di kamarku walau hanya sebentar. Padahal, sebelumnya ia marah pada baju yang telah kusetrika tapi masih di lantai. Mak marah pada printer yang tidak kuselimuti. Mak marah pada tong sampah yang penuh. Mak marah pada gelas yang tergeletak di lantai. Terlebih, pada buku dan tas yang menjadi teman tidurku.

Aku ingin mengatakan pada, Mak. "Bukannya aku tidak menyukai kamar yang sejuk. Tapi aku belum  memiliki kewajiban mempersembahkannya, Mak. Jika Mak masih terlelap di kamar, apa alasan jika aku harus mengubah kenyamanan kita? Mak, tidak sekarang. Suatu hari, kamarku serapi senyum di wajahnya. Aku janji itu."

Bahkan aku pernah mengatakan kepada seorang teman, "Aku ingin menikah jika aku telah benar-benar dapat merapikan kamarku setiap hari." Seperti kata Mak, melipat selimut begitu bangun tidur. Aku ingat, tapi aku tidak mengerti kenapa aku tidak melakukannya. Rasanya, itu terlalu membuatku risih. Aku masih ingin mengacak-acak kamarku.

Temanku berkata, "Waw! Tidak seperti itu juga kali, Is"

Tapi, bagiku. Itu harus. Sebagai tanda, setiap kali Mak marah, aku mendengarnya marah dan aku tidak benar-benar marah karena marahnya. Itu harus.

Seperti memasak. Ada rasa senang ketika teman menyukai masakanku, atau kue buatanku. Mereka kerap memuji. Tapi tidak di rumah. Mak memang pandai dalam marah, sayangnya Mak tidak pandai dalam memuji. Uniknya, lain kesempatan Mak akan mengajak aku membuat kue itu lagi atau membiarkanku dengan dapur. Yes! Itu tandanya aku berhasil!

Seperti halnya menulis, aku paling susah merangkai kata jika ada orang di samping. Baiklah, aku katakan kepadamu yang paling aku rindukan jika lebih dari tiga malam aku tidak di rumah adalah, aku tidak menemukan wajah Mak melongo dari pintu kamar lalu berjalan pelan dan tidur di ranjangku. Huf. Aku akan sangat merindukannya. Namun, aku, laptop, buku dan ranjang tidak bisa dipisahkan. Dan Mak, ia adalah penganggu ide menulisku. Tapi, saat itu aku lebih merelakan ide itu hilang sesaat dan memilih berceloteh dengannya. Seperti tentang temanku yang meminjamkan buku, tentang teman yang meminta bantuanku, apa saja, apa pun kuceritakan padanya. Jika kamu yang kuceritakan kepada Mak bersilaturrahmi ke rumah, lalu kukatakan padanya, "Mak ini yang belikan Isni buku resep kue, dia itu yang bla bla bla..." aku mengaitkan dengan cerita. Lalu Mak akan berbaur denganmu dan kamu seperti aku padanya. 

Sebaliknya dengan memasak seperti yang terjadi kemarin. Aku sudah memesan bahan kepada Bapak. Aku ingin membuat mie soa. Siangnya, aku mulai meracik dan aku tahu cara membuatnya. Tapi, yang terjadi setelah aku menumis bumbu dan Mak pergi meninggalkanku, aku gagap dengan apa yang selanjutnya harus aku masukkan. Langsung saja bahan yang telah kusiapkan, kutuang tampa ampun. Belum pula kurebus mie, tumisan bumbu minta campuran tepung dan air. Saat itu aku berkali-kali mengintip bayangan Mak berharap ia datang dan aku sekedar menanyakan apakah sudah cukup matang? Aku suka menanyakannya. Aku suka kepastian Mak. Walau hasilnya, mie soa mendapat pujian Bapak. Yap! Bapak kebalikan dari Mak, ia laki-laki yang lucu dan pintar dalam bergurau dengan anaknya, juga pandai dalam memuji. Dan, jika kamu benar-benar mencintaiku, kamu harus mencintainya. Itu harus! 

Huf. Aku sedang berpikir seberapa besar rindu yang dirasakan Kakakku yang sudah 10 bulan di kepulauan Riau karena tugas mengajar daerah terpencilnya. Walau aku sudah merasakan terpisah dari orang tua selama 40 hari karena tugas KPM semasa kuliah. Tapi aku rasa, ia wajar cemburu tiap kali aku berbelanja dengan Mak di pasar sedangkan ia di sana dengan keluarga pertemanannya. Tapi, Kakakku adalah kakak terbaik, ia mengerti aku. Sekali pun tidak tertarik masuk lebih dalam masalahku jika aku berkata, 'aku tidak apa-apa'. Jika kamu menyanyangiku, kamu harus menyayanginya, juga kedua adikku. Itu harus! Seperti aku menyanyangi kakak dan adikmu. Setidaknya beri ia senyuman dan terima candaan garingnya. Itu harus!

Maka cinta telah benar-benar hidup. Kepada yang mencintaiku, cintailah mereka yang ada sekitarmu. Dan lihatlah, cinta akan mencintaimu tanpa ampun.

Kepada yang kucintai, jika suatu hari aku tidak lagi bertanya bagaimana kabar Mak-mu. Aku berharap jika Mak-ku masih sehat, jenguk ia dan katakan padanya tentang tulisanku bahwa aku mencintainya.

7 komentar:

  1. Indah sekali Isni. Mamak Isni harus baca tulisan ini, harus!

    BalasHapus
  2. Kereen kak isni.... saleum saboh keu mak dren kak isni. Hehe
    Mak memg memgang peran yg luar bysa bgi anak2nya.

    BalasHapus
  3. Terimakasih kawan-kawan sudah mampir. Klau mau kenalan dg mamak main ke rumah yaa.. hehe ^^

    BalasHapus
  4. "Maka cinta telah benar-benar hidup." Ini bikin dada saya bergetar membacanya >.<

    BalasHapus
  5. Aku merinding baca postinganmu Isni :)

    BalasHapus
  6. Aku merinding baca postinganmu Isni :)

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers