UA-89306807-1

My Pleasure (eFKa)

Aku putri kedua. Hanya memiliki seorang kak perempuan yang berasal dari rahim yang sama, dua adik. Yang ingin kutegaskan di awal cerita ini, aku tidak mempunyai kakak kandung laki-laki.

Entah kenapa, begitu aku mulai memasuki tahap remaja. Satu persatu temanku bangga dengan kisah cinta SMA. Bersyukur saat kelas 11, aku sekelas dengan teman-teman yang shaleh dan shalehah. Mereka mebicarakan hobby, film, musik, keluarga, dan hari-hari menyenangkan bersama abang kandung.

Aku juga gemar menyewa novel. Cerita-cerita remaja mendorongku tertarik lebih banyak ingin tahu rasanya memiliki seorang abang.

Aku mutlak tidak memiliki abang. Baiknya, aku terbilang akrab dengan saudara laki-laki. Untuk mereka yang lebih tua, aku menyebutnya dengan abang kesayangan.

Yang pertama, keluarga besar kami menyebutnya Bang Faikal. Dialah dalang aku menulis malam ini.

Yang paling kuingat sejak kecil adalah.... ah, lupakan itu karena memalukan. Oya! Kita bermain minyak kayu putih!

Aku juga sering nginap di rumah Paman, artinya di rumah Bang Faikal. Seperti ceritaku pada postingan lalu, Paman dianugrahi tiga anak, ketiganya laki-laki. Itulah kenapa masa kecil kami sedikit canggung, aku lebih sering mengekori Bunda. Pernah, saat Bunda dan Paman ke luar kota. Aku saat itu menginap di sana, kalau tidak salah itu ketika aku duduk di bangku 5 SD.

Saat itu Riyad belum lahir, dan Bang Faikal dengan Dek Syahrul sangat gemar bermain PS. Pertandingan bola, permainan bola, pokoknya serba bola! Aku membuka pintu kamar dan ingin ke dapur, tapi terlebih dahulu harus melintasi ruang TV. Aku mengintip, bodohnya ketahuan!

'Jak, Is. Meen PS', ajak Bang Faikal.
'Han, Bang. Is hanjet meen PS', jawabku sama sekali belum pernah menyentuh benda itu apalagi melihat permainan yang sedang dimainkannya.
'Abang perno,' sahutnya lagi dan aku tetap menggeleng.

Aku juga ingat, ketika hanya ada aku dan Kak Nana di rumah Bunda. Seorang tamu mengetuk pintu, aku yang membukanya.
'Ada Kamal?' tanya bocah itu. Aku tertegun lama. Saat itu aku sama sekali belum tahu nama lengkap saudara sepupuku itu!

Kami pun tumbuh. Aku akrab via SMS. Sering aku berbagi cerita dan masalah. Aku nyaman, aku merasa seperti memiliki puzzle yang dibagikan teman-temanku tentang abang mereka.

Hingga pada suatu hari, aku dengan lugunya meminta ia menjadi abang kandungku. Aikh, itu konyol!
Tapi ia merespon sangat baik, 'biar pun kita bukan saudara kandung, tapi abang tetap abang Isni!' Ucapannya terus kuingat sampai sekarang. Dia tetap abangku!

Tanpa terasa, kita tumbuh begitu cepat. Jatuh cinta dan patah hati. Aku sering mengadu padanya. Sekedar meminta saran atau ingin dimarahi. Melegakan membaca nasihatnya, rasanya masalahku terbang dan sejenak lupa dengan sakit.

Tapi, abang kesayanganku itu akan menikah. Alhamdulillah wasyukurillah. Telah Allah pertemukan dua hati.

Dan aku merasa takut tidak normal, seperti halnya dulu ia berkata padaku bahwa aku tidak normal karena tidak tumbuh jerawat di wajah. Huft! Walau ketika tumbuh dewasa, aku sadar telah dibodohinya mentah-mentah!

Malam ini aku menangis. Mamak terlelap di satu ranjang sambil menanti Bapak pulang. Sedangkan air mataku jatuh begitu saja. Aku menarik selimut dan mencoba sepintar mungkin dalam menangis. Well, aku pandai dalam bidang ini.

Pada status bbm kutulis di sana, 'apa kalian juga menangis ketika saudara kalian akan menikah?'

Temanku ada yang menjawab terharu, bahkan Eky menjawab ia juga menangis ketika kakaknya menikah. Lagi-lagi aku bertanya konyol, 'jadi aku normal kan?'

Kalian tahu jawabannya.

Dan wanita yang ada di hati abangku bertanya aku menangis kenapa?
Aku suka memberi jawaban langsung, 'adek sayang abang, kak'

Aku tak berniat menusuk hatinya. Itu hanya perasaanku sebagai saudarinya. Kami sudah setahun, dua kali lebaran tidak bertatap rupa. Aku sangat ingin bertemu dengannya dan hanya bisa mengerti kesibukannya. Aku merindukannya, walau ia akan mengusiliku jika kami bertemu. Aku menangis karena takut waktunya untukku akan lebih banyak hilang, dan aku belum siap untuk melepaskannya.

Aaah! Aku mengutuk diri sendiri bagaimana bisa aku menangis pada laki-laki yang juga membuat aku menangis di depan psikolog saat wawancara beasiswa. Yaa!! Kali ini aku akan berteriak untuk diri sendiri, 'abang nggak akan selalu ada untuk Isni. Ada masa, waktu dimana ia tidak bisa,'

Itu hanya ketakutanku. Abang bukan pengkhianat, dia tidak pernah lupa pada janjinya. Aku yakin, ia tetap ada karena kita adalah keluarga.

Aku mengatur nafas. Menghapus air mata yang semakin deras ketika si kakak berkata, ' Tapi tolong hargai perasaan kakak juga ya,'

Aku menarik nafas lebih berat dan melepaskannya pelan. Aku telah memulai dengan kesalahpahaman.

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers