UA-89306807-1

Peukan dan Nasihat Aunty

Ketika saya menulis sekarang ini, si Lappy sedang sakit. Microsoft security essentials mendeteksi virus untuk keempat kali dalam sebulan ini. Beberapa menit sebelumnya layar Lappy tiba-tiba saja padam, kemudian muncul pernyataan bahwa si Lappy sedang sakit. Hati ini pun sakit. Langsung saja saya rehatkan dan kemudian berikan penyembuhan.

Lekas sembuh sayangku ya Lappyku sayang.
Baiklah, demi menghibur diri. Saya akan bercerita tentang suatu perjalanan selama di Malaysia. Bukankah saya belum pernah say hai, haii Malaysia I`m here!

Oke gaes. Sekarang saya tinggal di Tanjong Malim, Perak. Kampus saya Universiti Pendidikan Sultan Idris, dan saya sedang belajar peroleh master of education (physics). 

Taraaa, weekend! Dari hari Senin sampai Minggu, pada setiap hari Sabtu petang itu ada pasar malam atau dikenal dengan hari Peukan. Nah, sejak hari pertama sampai di UPSI, saya udah mendapat ajakan harus main ke Peukan. Tapi, tempat apa itu. Ada apa di sana. Apa yang istimewa?

Maka akhirnya setelah dua minggu lalui hari di asrama internasional students, saya bersama dua teman serumah pun menunggu bus yang menuju ke Peukan di depan halte KAB (Kolej Aminuddin Baki) yang tepat berada di depan asrama kami.

Sama halnya dengan Peukan dibuka tiap malam Minggu, Bus itu pun stay tiap Sabtu pagi pukul 17.00 dan kembali pukul 19.00 teng! Apa yang terjadi jika kami terlambat? Maka tak ada lagi bus free untuk kembali ke asrama. So?

Aha! Sebelum menjawab apa yang terjadi, saya akan ceritakan sekilas apa isi dari pasar malam itu. Jika di Banda Aceh, pasar malam itu ada beragam permainan. Saya pikir akan menemukan komedi putar mini di pasar malam, ternyata tidak! Saya pikir akan ada anak-anak kecil berlari-lari mengejar bola air, ternyata tidak ada anak kecil!

Yang ada hanya pedagang berbagai jenis makanan di sepanjang jalan kenangan. Aaargh kantong berlinang air mata. Hahahha
Mau makan apa, ada!
Mau beli apa, ada!

So, aku yang emang niat beli buah. Yap, beli buah. Kemudian beli beras. Selanjutnya, keliling atau di sini kerap dikenal dengan kata puseng-puseng. XD

Jarum jam menunjukkan pukul 19.00. Kita pun berjalan menuju halte mencari bus kembali. Hihi, so pasti hasilnya nihil. Naaah, bagian ini yang sebenarnya saya ingin ceritakan kepada teman-teman. Intermezonya panjang yak. Sorry. XD

Jadi kita tuh naik taksi. You know taksi? Haha yaelah, iayaaaaa dimana-mana taksi tuh sama aja transportasi untuk mengangkut penumpang dengan selamat sentosa.

Tapi yang bedanya dengan Taksi di Malaysia adalah, supir taksinya ialah perempuan maka karena itu kami panggil ia dengan sapaan Aunty. Selanjutnya Aunty adalah keturunan India, kamu dapat langsung membedakan apakah ia Cina, India atau Melayu.

Kalau di Banda Aceh, kita tuh naik becak ada adegan tawar-menawar harga. Kalau naik taksi di Jakarta, nggak perlu berlagak bodo karena di dasbor udah ada keterangan harga (bila naik bluebird). Hohoho

Hihi, entah kenapa, ketika Azet melakukan tawar-menawar dengan Aunty, aku teringat sama tukang becak. Peace Azet peace!

Hihi Sebelum memutuskan sepakat! Karena Azet menawarkan RM10 untuk ke KAB. Tapi Aunty tidak setuju! Aunty tanya darimana kami dapat tawaran harga segitu? Saya nggak paham BAB naik taksi. Azet paling jago kalau BAB jalan-jalan maka karena itu kupercayakan padanya.

“Teman saya cakap harganya RM10, Aunty!” jawab Azet.
“Coba kamu tanya ke office bila tak percaya, RM13 oke. Bila tak, taka pa. Saya tak boleh tawar harga tinggi-tinggi.”

Akhirnya kita naik, dikarenakan lelah dan yowes deh tak mengapa bayar RM13 untuk bertiga. Azet duduk di depan menemani Aunty, sedangkan aku tidur di belakang. Ngantuk.

Ternyata obrolan Aunty dan Azet panjang. Aku hanya menguping sekaligus kagum pada Aunty.

“Seharusnya pelajar yang belajar tidak naik taksi yang tak berbayar cukai, makanya mereka dapat beri tawaran harga RM10. Bila kamu naik, murah kamu dapat harga. Bila kamu kenapa-kenapa, mereka tak tanggung. Cuba kamu tengok nomor taksi saya, bila kamu tertinggal barang kamu dapat telipun office kita dan tanyakan. Saya akan periksa apakah benda kamu maksuda ada dalam kendara saya. Bila kamu menemukan bahwa harga taksi saya mahal dari lain, kamu dapat complain ke office dan saya akan dipecat. Kamu punya hak untuk itu. Bila pelajar benar-benar belajar, taklah dia naik taksi murah tapi bayaran cukai apa-apa tak lengkap. Bila apa-apa dia dapat kabur ke Negara lain, nah kamu bagaimana nasip? Seharusnya pelajar lebih cerdas, bila semua pelajar naik taksi semana mestinya, bagaimana si kurir taksi itu hendak cari nafkah karena tak ada pelanggan, benar tak?”
Kiranya begitulah rangkuman obrolan Aunty. Begitu Azet buka kartu bahwa dirinya bukan penduduk Malaysia, Aunty terkejut bukan main.

“Kamu Indonesian? Cakap kamu Malaysian.” Kata Aunty takjup. Saya akui emang Azet yang paling lurus lidahnya dengan logat Melayu. Jempol!

Aunty makin tak enak hati ketika Azet kembali menyatakan bahwa kami dari Aceh dan baru dua minggu di Malaysia dan tak mengerti tentang perbedaan taksi resmi dan taksi tak resmi. Aunty menjadi serba salah karena telah menasihati hamba-hamba tak bersalah macam kami. Tapi just oke Aunty, dimana-mana kita berpijak, ilmu saling menghargai dan apa yang Aunty cakap itu benar sangat lah.

Yok rame-rame kita pelajar, bersikaplah seperti pelajar. Naik taksi yang legal, ambil hakmu, dan jaga dirimu. Selamat berjumpa lagi kemudian cerita. Miss you. ^^

4 komentar:

  1. keyen euy! :D kapan2 kalo ke peukan, beli oleh2 utk kami yak :D

    BalasHapus
  2. emm... yg jelas jangan gantungan kunci lg y kak.. udah ada 2 nih yg dr malay :D

    apa aja dehh yg penting sweet :D

    BalasHapus
  3. Yg paling sweet itu kakak dong :*

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers