UA-89306807-1

Dukungan Bapak Di Waktu Berbuka


Menurutku, momen berbuka puasa malam ke-11 Ramadhan ini tidak bisa dilewatkan begitu saja. Sejak Ramadhan pertama hingga hari ini, saya masih berbuka puasa bersama keluarga di rumah. Menu yang silih berganti racikan tangan bersama Mamak di dapur. 

Bedanya dengan berbuka hari-hari sebelumnya. Berbuka hari itu tidak ada kakak karena sedang mengikuti pelatihan keguruan, sedangkan adik yang sulung berbuka puasa bersama dengan temannya di rumah teman yang masih sekampung.
Maka sisanya adalah saya, adik laki-laki sebut saja dia Khalis, Bapak dan Mamak.

Seperti biasanya, lima belas menit lagi hendak berbuka saya akan merapikan meja makan. Menuangkan minum ke gelas lalu berbalik ke dapur untuk menaruh nasi ke dalam piring. Nah, bagian menaruh nasi dalam piring ini nih memang sudah kebiasaan rutin saya. Maka saya paling tahu porsi makan seluruh keluarga. Keuntungannya adalah saya dapat menaruh nasi ke dalam piring sendiri sesuai selera, alias sedikit. Hahaha

Niatnya kan saya kalau makan nasi sedikit, bisa comot kue dan minum air buah. Nah, dua menit lagi sirine berbuka dan azan berkumandang saya baru sadar kalau ada yang aneh di meja makan.

Saya lirik isi piring saya yang sudah saya taruh kuah asam keueng. Saya lirik piring si adek. Kok malah piring makan saya yang lebih banyak nasinya. Padahal si adek yang hari-hari makannya lebih banyak dari saya. Lagi pula, saya rasa tidak mungkin salah meletakkan porsi makan sesuai tempat duduk.

Maka, gaduhlah saya dengan si adek.

Sialnya Bapak bukannya membela saya, malah mendukung saya untuk menghabiskan isi piring. What? Ini terlalu banyak. Tidak mungkin. Saya bersikeras daripada mubazir. Maka bukan Bapak jika tidak tetap dengan kata-katanya.

Saya pun mengalah berhubung waktu berbuka sudah tiba. Bismillah dan doa berbuka menjadi kesyukuran sekaligus harap ini isi piring bener-benar bisa disikat habis dah.

Rupanya, saya mulai menyisakan nasi karena sudah merasa kenyang. Sialnya lagi, Bapak diam-diam mengamati saya makan. Bapak malah menyuruh saya menambah kuah dan harus habis nasi. Suap demi suap rasanya waktu mengadu sangat lama. Bapak sudah bangkit dari duduk dan sedang berwudhu`. Sedangkan saya baru menyelesaikan makan nasi begitu Bapak hendak pergi ke mesjid. Sembari menghidupkan motor, Bapak bersorak dari luar.

"Malam nyoe Uning juaranya," *malam ini Uning juaranya. Juara makan gituh maksud Bapak. Oh ia Uning tuh panggilan untuk saudara perempuan, dalam keluarga saya dipanggilnya Uning.

Hahahhaha gelak tawa si adek ketika Bapak kembali bersuara, "malam-malam singoh payah duk sampeng lon, pajoh bue beu abeh-abeh." *malam-malam besoknya harus duduk di samping Bapak, makan nasi harus habis.

Ampuuuun deh. Hahahahaha

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers