UA-89306807-1

Pengingat Diri


Saya ingin sekali berdakwah semana mestinya. Allah telah mengantarku sampai hari ini dengan beragam perbedaan. Aku tidak bisa hanya melihat dan mendengar. Tetapi aku juga bingung bagaimana mengawalinya. Ilmuku masih kurang. Sangat kurang. Tetapi aku ingin melihat mereka saudara-saudaraku seiman, mereka yang bahkan sangat baik mau menyumbang tenaga serta pikiran untuk mencerdaskan anak bangsa.

Teman-temanku, saudara-saudariku sekalian. Aku tak pandai dalam menyampaikan. Seringnya aku takut salah dan hati kerabat terluka. Tapi, sekali saja biarkan aku menuangkan kegelisahanku di sini.

Hari demi hari, aku sampai pada apa yang selama ini terlihat dibalik layar. Saudariku yang tidak menutup aurat adalah Islam. Sedihnya aku mendengar berita itu dari mereka yang berbeda agama. Seharusnya aku lebih peka, bukan?

Lantas apa yang harus aku lakukan. Bodohnya aku tidak tahu. 24th aku telah hidup mengecap manisnya syariat islam di Aceh. Syukur alhamdulillah dibalik kekhilafan masih dititipkanNya lembaran baru untukku.

Ada pertanyaan konyol terbersit dalam pikiranku. 
"Kamu sangat pandai, jauh lebih pandai dariku. Apa yang kamu pikirkan tentang agama kita? Kenapa kamu belum menutup aurat?"

Berkali-kali pertanyaan itu hanyut dalam pikiranku semata. Jiwaku seolah menjawab, 'mereka memandang Islam dengan sudut pandang yang berbeda."

Separuh jiwaku bersorak, "Tetap saja Islam yang diajarkan Rasulullah adalah sama, apa yang aku pelajari sama dengan apa yang mereka pelajari. Jika mereka mempelajarinya."

"Mungkin mereka belum mempelajarinya, atau salah dalam memahaminya?"

Aku terdiam. Sejenak merenung tentang pemahaman. Aku sendiri yang sudah menutup aurat sejak kecil juga berkali-kali keliru dalam memahami suatu perkara dalam Islam. 

Terungkap kisah tentang manisnya meneguk setetes cinta seorang anak manusia. Hari-hari berjamur pikiran tentangnya. Tidak dalam duduk diam, atau hiruk pikuk pekerjaan dan belajar. Berkali-kali tak mampu membendung rasa ingin berbicara dan mengungkap rasa. 

Islam tidak melarangku jatuh cinta, memendam rasa, cemburu dengan berbagai kata serupa. Tetapi yang baru kupahami tak berapa lama ini adalah, bagaimana memulainya dengan cara yang benar. 

Yap! Aku telah pernah melaluinya dengan cara yang salah dan berakhir salah. Sama halnya dengan mereka yang sedang ditodong pertanyaan kenapa belum menutup aurat? Berusaha mengelak dengan seribu satu alasan tetap bukan jawaban yang benar. Sama halnya denganku, tidak ada jawaban yang benar yang mampu membenarkan berpacaran. Tidak ada sama sekali.

Level selanjutnya yang dihadapi lebih berbelit. Aku teringat ketika pertama kali aku mengenakan jilbab sedikit lebih lebar dari biasanya dan manset lengan. Teman-teman yang menganut kepercayaan yang sama, bahkan berada dibawah payung syariat islam yang sama, mereka diutus olehNya untuk melemahkanku. 

Kalau dipikir, manusia betapa lucunya aku. Aku tahu tapi masih saja tidak mau tahu. Menyepelekan dan menganggap remeh. Aku jelas tahu berpacaran dilarang, bahkan jika Bapak tahu akan marah besar. Tetapi tetap meriasnya dengan segala kata dan rahasia. Tolol. Sangat tolol bahkan mengabaikanNya yang jelas tahu segala rahasia.

Singkatnya, ujian sebagai hambaNya di dunia ini masih berlanjut. Jika lelah cukup berhenti sejenak, atur nafas dan merilekskan pikiran. Tidak ada yang dapat memaksa kita untuk berubah. Tidak pula berubah karena seseorang. Tapi cukup niatkan, dan selalu memohon agar senantiasa diarahkan olehNya kepada jalan yang lurus. 

Penulis menulis sebagai pengingat diri. Salam ukhuwah.

5 komentar:

  1. Keren kak.. harus diakui, tidak semua mampu kita lakukan dengan. Insya Allah jika sudah ditargetkan apa pun itu tercapai. Asal ada usaha juga tentunya. Salam berbagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehhe terimakasih Aula sudah mampir. Salam berbagi. :)

      Hapus
  2. Keren kak.. harus diakui, tidak semua mampu kita lakukan dengan. Insya Allah jika sudah ditargetkan apa pun itu tercapai. Asal ada usaha juga tentunya. Salam berbagi

    BalasHapus
  3. berubah harus dengan hati yang tulus dan bukan karena seseorang :)

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers