UA-89306807-1

PK-25 LPDP ~ untuk Dikenang


Suatu hari akan ada masa teman-teman mengetik kata 'PK-25' pada pencarian google. Jika itu yang mengantarkan teman-teman untuk sampai pada postingan ini, saya ucapkan selamat datang silakan duduk dan cicipi hidangan kecil ini, untuk dikenang.

Saya menulis ini untuk beberapa bulan ke depan, atau tahun-tahun yang telah membawa kita lebih baik dari hari ini, In Sya Allah. Kepada masa dimana pertemuan direntas kesibukan melanjutkan estafet menuju generasi emas 2045. Pada sekalian rindu, saya akan mengupas sedikit kisah kita bersama.

Berawal tidak saling kenal. Bermodal saling percaya. Kita digerek waktu untuk berarti. 

Hari dimana rutinitas separuh tergadaikan, kita bersikeras hadir dalam rapat tanpa muka. WhatsApp, Milis, telepon, bahkan SMS menjadi perantara. Tanpa disadari tugas Pra-PK telah mendidik kita untuk sinergi.

Perdebatan, tugas timba tindih, partisipasi, keterbatasan telah menguji nilai kekompakan kita. Salah satu yang lekat dalam ingatan, Indonesia kita luas. Sabang sampai Merauke tersebut dalam lagu. Kesatuan yang menyertai jejak kita tanpa disadari. Kita disatukan, siapa peduli dengan mereka yang ada dipesisir pantai atau di atas bukit. Keterbatasan jaringan berhasil menyisakan kegalauan sampai Jakarta. Bagaimana tidak? Satu tugas teman tidak terkumpul, habis sudah seangkatan.

Pagi petang malam, tanpa jemu ketua berkoar-koar mengingatkan, memastikan bahkan terikat batin apa yang sedang terjadi. Ketika itu kehebohan di grup, layaknya mencari orang hilang. Satu demi satu nama orang hilang itu bertambah. Itu teman kita. Kemana dia? Kenapa telepon tidak aktif, sedangkan deadline diunjung tanduk.

Seketika nafas kembali damai saat teman telah ditemukan. Tugas telah tersematkan. Tanpa marah, adanya pelukan. Karena nun jauh di sana siapa duga ia terlilit cemas telah menyusahkan seangkatan. Jakarta adalah sentral, namun PK telah menyajikan satu rasa yang luar biasa, bahwa Indonesia selain luas adalah pemerataan. Inilah estafet yang sedang kita mainkan.

Teman, ingatkah siapa yang pertama kali kamu temui di Wisma Hijau?

Hari tu mobil rombongan kami dari Aceh memasuki gerbang Wisma Hijau. Teman-teman dapat menjawab sendiri pertanyaan di atas. Sedangkan saya hari itu melihat seorang pria dengan jemper meneduhi kepalanya. Pria berkulit putih itu sedang memetik senar gitar. Pria itu duduk asing paling unggul menjadi sorotan pertama siapapun yang masuk ke perkarangan Wisma. Beberapa menit kemudian saya yang dimandatkankan sebagai ketua kelompok KRI Sultan Hasanuddin (366) mulai menyesuri teman-teman sekelompok. Yap! Pria tadi salah satu yang pada ending cerita menjadi ketua kelompok terakhir kami, Ari Sanjaya berasal dari NTT.

Teman, ingatkah siapa yang pertama kali menjabat tangan kalian di PK-25?

Saya ingat, itu adalah ruangan resepsionis. Sekitar lima gadis tengah duduk sambil memainkan laptop. Rupanya mereka adalah teman seangkatan. Lalu tanganku dijabat oleh gadis manis, ia semakin anggun dengan balutan hijabnya, Aisyah Maulida, ada pula Teti, Darlin dan Mbak Pida yang sedang mengkoordinir kegiatan dibalik layar laptop.

Satu persatu teman muncul. Absensi berlangsung. Menghubungi dan memastikan kehadiran sudah menyatu dalam diri. Apa yang terjadi, satu dari anggotaku tidak kunjung sampai bahkan tanpa kabar berita. 

Menerawang sejenak tentang teman-teman yang sejak Pra-PK berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Saya sedikit kewalahan dalam meliput. Tapi sedikit untuk dikenang, kita memiliki ketua Pra-PK yang sangat unik. Saya sendiri tidak memilih beliau saat itu. Obrolan pertama dengan beliau adalah penegasan, obrolan kedua adalah canda ria, kita akrab memanggilnya Pak Jamal. Seorang satria dari Papua yang telah menaburkan warna tersendiri dalam cerita kita.

Ingatkah kalian siapa saja yang telah menduduki ketua setelah Pak Jamal?

Hari pemilihan itu, tidak lagi hanya membaca profile dan melihat dari selembar foto. Kita telah dipertemukan. Pemilihan berlangsung, terkesan ribet dengan turun jabatan artian segala tugas akan beralih tangan. Ketika saya telah nyaman melapor kepada Pak Jamal, saya harus melapor kepada Mbak Triana, Mas Liem dan ketua PK kita yang tak kalah unik. Terpilihnya beliau diiringin doa semoga cukup sekian pergantiaan ketua angkatan, karena saya hampir kehabisan peluru siapa lagi yang harus duduk sebagai ketua kelompok.

Pesona Mbak Lili berhasil meninggalkan gaung yang menggema dalam ingatan. Longlongan TOA masih terdengar akrab ketika ia mencoba membangunkan seluruh awak kapal PK-25 untuk segera berkumpul di pagi buta. 
Kalau kata Pak Kamil sih, 'cuma di PK-25 cara ngumpulin anggotanya pakai TOA.'

Ah, PK-25. Denger lagu bara bere ingatnya Mas Yugor.
Hedeeuh, PK-25. Kalau ngetrack sih so pasti ingatnya Bang Jiwo.

Terus siapa yang paling kalian rindukan di PK-25.
Hening cipta, dimulai. Peace gaes, dijawab sendiri ya. Pantengin terus kelanjutan tentang PK-25, Diversitas Nusantara Lintas Maritim. 

Salam PK-25, beda kapal, satu tujuan, Indonesia.


2 komentar:

  1. Keren mbak... Wilson Sampari Awom, PK-25 KRI Diponegoro ..

    BalasHapus
  2. Lili Asmawati6 Juli 2015 04.06

    Keren,,,,PK 25 gak ada matinya,,,,,,

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers