UA-89306807-1

Doa untuk Teman

Foto by Leny
Aku juga memikirkannya. Bagaimana jika aku ikut menulis? Kemudian ingatakanku berpencar mengumpulkan segalanya.

Anggap saja ini adalah apresiasi kebahagiaan terkabulnya sebuah doa. Doa kita semua. Doa untuk teman.

Bukankah aku terlihat tulus memulai kalimat pembuka. Hahaha.

Sembilan tahun lalu sejak pertama kali menjadi murid kelas menulisnya. Sekarang aku sedang melihat sepuluh jari pada kedua tanganku. Semuanya tidak mampu menceritakan bagaimana hari-hari telah terlalui. Tapi, apakah lamanya pertemanan membuat (aku) benar dalam mengenal seorang teman? Aku mengela nafas. Pertemanan selalu menyisakan kejutan untuk dinikmati bersama menjadi sebuah cerita. Seiring berjalannya waktu, aku memahami kenapa terkadang (aku) harus bergerak, mengalah, atau diam. 

Kapan aku menjadi sangat akrab dengannya? Waa, sebentar aku harus memanggil ingatanku lagi. Karena dia adalah teman yang paling cerewet dan suka memerintah semenanya. Paling narsis dan ingin dipopulerkan. Waaah aku harus menjerit karena kesulitan memisahkan ingatan dan memilih bagian mana membuat kami menjadi lebih akrab. Mungkin pada saat aku sedang memikul sebuah masalah tanpa kusadari. Ya! Dia menyadarkanku kalau aku dalam masalah dan harus segera keluar. 

Teman menjadi orang yang selalu dibutuhkan. Keberadaan mereka melengkapi. Kita pernah tersesat lika-liku kehidupan hingga pintu keluar terasa sangat jauh. Teman akan menjemput dan membantu untuk keluar bahkan mengantar pada tujuan.

Aku belajar darinya cara melindungi diri dengan selalu berbaik sangka. Kami berdiskusi dan melihat masalah dari beberapa sudut pandang. Berteman dengannya yang memiliki usia jauh lebih tua mengajariku banyak hal termasuk cara memisahkan masalah dan menyelesaikan masalah. Saling belajar dari masalah yang telah lahir ke dunia ini untuk tidak lagi tersesat pada liku yang sama.

Anggap saja ini masih hari raya dimana aku akan menulis yang baik-baik tentangnya. Untuk seorang guru menulis, seorang teman, seorang abang. Oke, aku akan mengatakan pada kalian semua salah satu apa yang menjadi alasan aku berani mencoba sesuatu yang baru bahkan asing. Yup, karena ini tentangnya so pasti ya dialah yang pernah mengatakan kepada beberapa rekan kalau aku bisa melakukannya, jika aku tidak tahu, hanya perlu mengajari dan aku akan mempelajarinya. Aku mengingatnya. Maka setiap kali aku takut, aku percaya bahwa disekitarku ada banyak sekali tangan Tuhan yang akan mengajariku. Aku hanya perlu menjalaninya. 

Uhuuy. Terimakasih sudah percaya pada kemampuan amatiran ini. -___-

Sedikit lagi tulisan ini hampir selesai tentang dia yang paling suka nyuruh orang pasang foto profil bukunya, pasang stiker bukunya, mention sana sini link tulisan bahkan harus baca tulisannya. Terkadang kami malu punya teman kayak dia. :p

Hari itu aku sedang sangat dikejar deadline. Tanggal final exam sudah keluar. Aku harus segera mengsubmit tugasku dan hampir gila karena masih berkutat dengan jurnal. Seketika saja aku lupa tentang deadline dan setumpuk tugas. Mungkin terlalu melankolis jika aku mengaku sampai menangis bahagia mendengar ceritanya. Tanganku tak sabar menggeser scroll membaca ceritanya tuntas. Bagaimana Allah SWT telah menyiapkan cerita yang sangat-sangat indah untuk dinikmati setelah tercabik sekujur badan. Aku sangat bahagia. Berkali-kali aku mengucapkan barakallah dan merasa semakin ingin lebih dekat denganNya. 

Akhir tulisan, semoga proses ijab qabul besok pagi berjalan dengan lancar dan menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah. Kado yang paling dinanti seorang teman adalah doa. Doa kami menyertaimu. 

Jangan lupa, kami masih kecil. Masih butuh bimbingan seorang abang kayak Bang Ferhat. :)


3 komentar:

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers