UA-89306807-1

Tidak Mengapa Jika Aku Takut


Aku lahir dan ayah mendidikku untuk tidak pulang terlambat. Tidak pulang sebelum magrib, apalagi malam. Ayah melarangku, beberapa kali aku pernah marah hingga aku mengerti dan takut sekali ketika akan terlambat sampai rumah.

Akhirnya aku senang dengan larangannya. Aku menikmatinya dan hidupku tetap hidup. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di rumah ketika malam tiba. Ruang TV tak jarang beralih ke kamarku. Kita membicarakan remeh temeh. Kadang-kadang aku memainkan laptop dan membiarkan mamak terlelap di samping.

Sore tadi, mamak berkata, 'Ayahku beda dari ayah yang lain.' Aku tertawa mendengarnya karena cukup kami yang paham. Umumnya pada orang tua adalah, beda cara berpikir yang kebanyakan orang menyebut dengan primitif. Tapi bukankah setiap orang memiliki benteng pertahanan yang diciptakannya sendiri? Bagiku, itu adalah benteng terkuat yang diciptakannya. Walau aku tidak paham seutuhnya.

Aku akhirnya takut untuk pulang malam. Aku takut keluar malam. Rasa takutku itu karena sendiri. Berbeda jika bersama.

Awal ketika rasa takut itu benar-benar bernanah ketika aku pergi bersama teman. Dulu sekali ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas, karena rumahku lumayan jauh, teman-teman akan berpikir lama untuk memutuskan.

Hari itu aku tidak punya teman pulang, lebih tepatnya tidak ada teman (searah) yang bersedia pulang denganku. Aku ketakutan, itu kali pertama aku jalan jauh dengan teman. Bayangan ayah marah di depan mata. Gelisah. Takut.

Waktu berlalu. Aku kira semua teman seperti itu. Ternyata tidak. Tapi ada waktu ketika teman yang kuandalkan tidak ada, aku takut. Padahal langit baru saja menarik tirainya, tapi aku takut karena jalan pulang rumahku lumayan sepi. Aku memberanikan diri. Tapi rasa takutnya masih mengikutiku sampai menuliskannya sekarang. Aku mengendarai motor dan ada yang mengikutiku sisi kiri dan kanan. Mereka lelaki yang hanya mengendarai motor. Tetap saja.

Aku tidak takut pada hujan, apalagi petir. Bahkan aku lebih berani dari Az ketika kami terjebak hujan deras dan petir menggelegar. Tapi aku takut jika malam telah benar-benar gelap dan petir beradu pedang dengan hujan. Aku takut pada bunyinya. Ya, aku takut pada suara petir, hujan lebat dan itu tengah malam.

Tidak mengapa aku memiliki sesuatu yang aku takutkan. Aku menerimanya dan menyebutnya dengan benteng. Selagi aku takut, mungkin takut yang telah menyelamatkanku sampai hari ini. Tidak mengapa aku takut, tidak mengapa. Semuanya baik-baik saja.

Aku ingat siapa temanku dan bagaimana teman-teman memperlakukanku dengan sangat baik. Aku belum mampu membalasnya, tapi aku mengucapkan terimakasih banyak.

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers