UA-89306807-1

Surat yang Tersimpan; Hi You


Dear you,

Hi, you. Saya beberapa hari ini ingin sekali menceritakan apa yang terjadi. Beberapa hal yang membuat lebih suka menikmati malas daripada membaca buku pelajaran. Sedangkan dalam imajinasi tengah menulis surat untukmu. Gerangan di sana apa yang kamu rasakan. Adakah malas juga menghantuimu?

Saya memohon kepada Tuhan agar mencabut malasmu dan sukseskan pekerjaanmu sehingga mudah bagimu menuju kemari. Saya selalu memohon dengan cara itu perlahan malas tersembuhkan. Mimpi dan cita-cita mendapat percikan air semangat. Saya tersenyum menyeka pipi lalu merebahkan diri di atas sajadah melanjutkan berbicara denganmu lewat perantaraNya.

Ya! Saya percaya, jarak kita ada dalam barisan doa. Itulah kenapa selalu ada doa untuk diri ini, kedua orang tua saya, kamu dan kedua orang tua kamu. Kemudian saya tersenyum sambil mengelus lembut sajadah. Saya merasa tidak ada pemisah karena semua berasal dari-Nya dan kembali pada-Nya. 

Langit Banda Aceh cerah. Awan menggumpal mirip sekali gulali seolah memayungi bumi dengan kesetiaan padanya. Padahal ia hanya setia pada Tuhan. Seperti titah-Nya pada kita.

Hi kamu yang sedang berusaha. Kita melewati masa-masa tersulit yang tak terhitung berapa kali ingin menyerah. Namun, karena Tuhan paling tidak menyukai hamba-Nya yang berputus asa, kekuatan itu muncul dari segala arah. Kita bangkit. Seperti yang terjadi pada saya. Lewat surat ini saya ingin kabarkan, berapa pun kita terjatuh jangan sekali pun berputus asa. Saya yang mencintai kamu dalam doa.

Best regard,

I

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers