UA-89306807-1

Mawar Merah



Sekian banyak jenis bunga. Mawar merah yang paling saya cintai. Kami memiliki kisah yang rumit. Namun, saya berharap dia bisa menemani saya.
Itu bermula sudah sangat lama. Sejak saya masih kecil sudah menyenangi bunga mawar. Jika kamu pernah mencium aroma bunga mawar merah yang kelopaknya banyak-besar dan harum. Itu adalah jenis paling saya suka dan sekarang paling susah ditemui. Semakin susah ditemui juga karena ada alasannya bukan?
Waktu itu saya sedang disibukkan ujian nasional tingkat tsanawiyah. Kesibukan belajar dan les tambahan banyak menyita perhatian saya daripadanya. Dia adalah cinta pertama saya. Dia tumbuh sangat baik. Berawal dari satu ranting yang saya tancapkan dalam polibet kemudian dewasa di tanah luas. Saya tidak pandai dalam berkebun, tapi saya suka mencari cacing dan menggeburkan tanah kemudian menanam cacing di sana selanjutnya menimbun dengan daun belimbing wuluh yang sudah lapuk. Saya melakukannya rutin. Saya juga punya cara tersendiri dalam menyiram bunga. Itulah bagian dari bermain dengannya. Saya suka memercikkan air di atas daun-daun kemudian kelopaknya. Saya akan meminta izin mencabut daun yang sudah menguning dan meletakkannya bersama daun yang lapuk tadi. Begitu juga dengan kelopak yang saat tiba masanya berguguran. Dia adalah teman dan saya berbicara dengannya.
Rutinitas itu berakhir. Saya tidak pernah memikirkan kami akan berpisah. Kenyataannya terjadi. Rasa patah hati pertama saya sangat menyakitkan.
Suatu sore saya pulang dari sekolah dan menemukan temanku sedang menahan sakit. Saya ingat jelas berapa tingginya yang bahkan mulai melebihi saya termasuk melilitkan pada tubuhnya sendiri. Perihnya, yang saya temukan sore itu adalah batang tak lebih dari 20 cm.
Saya masih menerima rasa sakit tiap kali menceritakan tentangnya. Terlebih ketika saya tahu siapa pelaku yang tak bukan adalah Ayah saya. Hancur sudah.
Saya memungut guguran kelopak terakhir berharap memberi kekuatan untuknya hidup. Hari berlalu. Setiap hari saya melihatnya penuh harapan. Tapi Allah berkehendak lain. Batangnya perlahan berubah warna kecoklatan hingga rapuh bagai kayu siap dilalap api.
Saya tahu, niat Ayah baik. Beliau ingin merawat karena tidak senang melihatnya tumbuh menjalar liar. Tapi saya terlambat ketika mengatakan bunga yang mulai berupa pohon mawar itu paling tidak boleh dipangkas habis. Saya merawatnya penuh cinta tetapi ia mati dengan kesakitan. Hari itu saya marah pada Ayah dengan cara menghindarinya.
Menyedihkan lagi, setelah kejadian itu. Setiap kali saya menanam bunga mawar tidak ada yang tumbuh. Saya terus mencoba hingga saya gagal berterusan. Namun, saya masih menyimpan memori bersamanya. Suatu hari nanti saya yakin akan ada masanya mawar kembali tumbuh dari sentuhan saya.
Nah, mawar ini saya membelinya kemarin. Menjadi teman tempat saya berbicara. Mereka mempunyai pendengaran yang sangat baik. Saya berharap kamu tidak mati. 
frown emotikon

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers