UA-89306807-1

Hiduplah Bungaku

mawarku yang tak sempat merona
Ini sebuah cerita yang saya beri judul; Hiduplah Bungaku, teruntuk kamu yang mengaku paling tidak bisa menulis cerita bahkan mendeskripsikan sebuah gambar. Kemudian sebuah suara terdengar, 'kamu tidak harus bisa melakukan apa yang saya bisa lakukan, begitu pun saya.' Biarlah saya yang menulis semuanya, mendeskripskan benda mati menjadi hidup, menggemburkan rasa yang hidup untuk terus hidup. 

Jika kamu pernah membuka blog saya, kamu akan mendapatkan sepotong cerita tentang bunga mawar. Jika kamu tidak tahu, akan saya ulangi di sini, saya sangat menyukai bunga mawar terutama mawar merah. 

Singkat cerita sudah sebulan saya membawa satu pot bunga mawar ke rumah, dan hari ini lahirlah sebuah cerita tentangnya. Saya yang setiap hari memperhatikannya.

Ya, dia adalah bunga mawar saya. Ketika hari pertama sampai ke rumah, ia girang bukan main sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya berhasil membuat saya tertawa. Saya meletakkannya di balkon rumah agar dapat menghirup oksigen dan menerima sinar matahari. Seolah menahan saya untuk meninggalkannya, saya pun duduk dan memandang kekujur tubuhnya. Ia memiliki daun yang kecil berwarna hijau gelap. Saya membelainya, apakah kamu tahu apa yang saya rasakan dari sentuhan pertama itu?

Betapa kerasnya hidup yang telah ia jalani hingga sampai pada tangan ini. Seperti tangan bayi mungil yang minta mengenggam, jari saya meraih daun yang baru tumbuh. Alangkah senang hati ini kalau bungaku hidup. Beberapa kuncup bunga seperti tidak sabar menampakkan pesonanya. Saya pun berkata, 'terimakasih untuk masuk dalam hidup saya, saya akan menjaga kamu dengan sebaiknya.'

Hari pun berlalu. Setiap pagi saya akan memercikkan air ke tubuhnya. Bermain, berbicara dengannya.

Memandanginya dari berdiri tidak puas hati. Saya jongkok dan memperhatikannya lebih dekat dan ternyata ada beberapa daun yang menguning. Berat, tidak sampai hati saya yang harus memisahkan diantara mereka. Saya menyentuh daun itu lama memberi waktu padanya berbincang pada teman sedaunnya. Saya dapat pastikan ia berkata pada lainnya, 'jangan sedih temanku, jangan sesekali kalian marah padanya karena ia mencabut hidup saya. Sesungguhnya ia tidak akan memisahkan kita.'

pengorbanan daun
Saya memetik daun itu kemudian meletakkannya di dalam pot. 'Temanmu tidak mengorbankan kesiaan, ia akan adalah pupuk yang menjadi nafas untuk kalian bertahan hidup.'

Kejadian itu terus berulang. Hingga suatu hari ketika saya bangu pagi alangkah terkejutnya. Bukan tangan saya yang memisahkan mereka. Bukan juga tangan kedua teman saya. Bukan tangan siapa-siapa. Tapi mereka jatuh berguguran mencium lantai. 

Bergegas saya mengutip semuanya dan meletakkan di dalam pot. Kuncup yang sebelumnya tak sabar menanti kembang telah layu. Tidak ada senyum di wajah kita hari itu. Saya bangkit dan mengambil air. Memandikannya dengan kasih sayang lebih. Tubuh yang sebelumnya diselimuti daun-daun sekarang ia kedinginan. Tangan saya memeluknya dan berkata penuh harap, 'saya mohon, bertahanlah, jangan mati.'

Keesokan harinya tidak ada yang berubah. Saya jadi takut, jangan-jangan bunga yang saya bawa adalah yang baru ditanam. Batang yang ditancapkan ke dalam pot. Saya geram bukan main dengan imajinasi itu langsung pergi melihat.

Saya korek-korek tanah yang hampir sepenuhnya adalah serbuk kayu dan dedaunan bunga. Ya! Saya tidak tahu pasti karena tidak ingin merusak pertahanan yang sedang mereka bina. Tapi saya dapat merasakan akar-akar belum kuat dan bisa saja dugaan saya benar.

Perhatian saya semakin tertuju padanya. Hingga suatu pagi saya dikejutkan dengan keharuan. Mereka tumbuh! Ya mereka hidup!

daun baru pun tumbuh, yeaaa!
Saya mendekat dan memastikan lebih dekat. Betapa haru saya menemukan bahwa selama ini bungaku bertarung untuk hidup. Daun-daun baru mulai tumbuh pada setiap batang. Hijau muda, kecil, mungil dan menyegarkan resah. Saya duduk bersamanya lama, 'terimakasih untuk bertahan hidup bersama saya.'

Hai kamu yang masih meneruskan bacaan sampai kata-kata terakhir saya. Tahukah kamu apa yang bunga mawar coba katakan pada saya?

Ia hendak berkata, 'kami telah melalui masa-masa yang sulit, menahan sakit dan perih, tetapi Tuhan selalu punya akhir yang indah bukan? Apa kamu bahagia dengan yang kamu lihat? Maukah kamu menerima apa yang Tuhan persembahkan?'

Saya mengangguk kuat dan tersenyum bahagia. Tidak ada yang sia-sia. Terimakasih telah memilih hidup bersama.

2 komentar:

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers