UA-89306807-1

Menerima Penolakan


Baca postingan sebelumnya tentang yang tidak diceritakan orang padamu dalam meraih mimpi.

Saya, kamu mungkin mengakui hal yang sama ketika merasakan sangat tidak bersemangat. Menghabiskan waktu luang hanya stalking, browsing nggak jelas, atau tidur berjam-jam ngemil lalu tidur lagi, ketika ada yang diinginkan tetapi tidak tercapai yang bisa kita sebut dengan penolakan.

Selain penolakan yang kebanyakan ditakuti remaja atas perasaan yang ditanggungnya. Penolakan yang akan dibicarakan dalam entri kali ini adalah tidak tercapainya sebuah mimpi. Terlalu tragis jika saya menyebutnya dengan kata TIDAK, mari kita mengganti dengan BELUM.

So, bagaimana sih mempersiapkan diri menerima penolakan?

Saya bakal cerita ke kamu tentang seorang sahabat. Sebut saja namanya Makmum. Dia memiliki kepribadian yang sangat menjengkelkan tapi dibalik sifatnya itu kami tidak pernah bisa membuangnya dari daftar list sahabat. Maka tersebarlah informasi tentang beasiswa bagi yang mau melanjutkan pendidikan dari Makmum. 

Saya yang saat itu sedang duduk dibarisan teratas podium mengibarkan bendera palestina mengernyitkan alis lima belas derajat karena membaca SMS-nya. Yang bener saja ada beasiswa enggak nuntut TOEFL. Seusai acara pengumpulan dana solidaritas untuk Palestina saya sudah ingin menancapkan gas untuk pulang, tapi lumayan penasaran dengan kejengkelan Makmum. 'Kalau mau tau lebih jelas, aku ada di markas,' balasan singkatnya,

Oke, singkat cerita saya sampai di satu tempat yang sering kita sebut dengan 'markas'. Di sana sudah ada Yenny yang sedang mengisi formulir online. Apaan coba? Saya yang masih enggak tahu apa-apa nyebutin aja apa yang diinterogasi Makmum. Kampus tujuan? Terbengong-bengonglah saya hingga tersubmit pendaftaran online dan pulang dengan pikiran enteng. Besoknya masuk lagi pesan-pesan dari Makmum ngingatin deadline persyaratan berkas. Mulai A-Z, saya didikte harus ini harus itu. Ingin melawan pun saya nurut. Eiits, rupanya bukan saya dan Yenny doang yang dia komporin ikutan. Seabrek genk-nya juga. Kebayang gimana mulus nan tulusnya Makmum. Tapi bukan itu inti cerita, melainkan di ending kejar-kejaran beasiswa itu dari sekian banyak yang dia bantuin dan lebih tepat diurusin sampai kirim berkas ke kantor POS. Saya tidak percaya kalau Makmumlah yang tidak lulus. Di saat hampir semua dari kami menerima penerimaan sedangkan Makmum menerima penolakan.

Andai saja bisa, ganti saja nama saya dengan namanya. Tapi apa yang dilakukan Makmum selanjutnya? Keep follow us. Makmum keep support us. 

Makmum juga coba kesempatan selanjutnya. Tapi lagi-lagi penolakan yang dia terima. Hingga suatu hari saya dikejutkannya, 'kalau mobilku laku, detik itu juga bakal daftar S2.' Pasalnya itu mobil yang dibelinya dengan air keringat sendiri, jual? 

Waw, Makmum tidak pernah putus asa. Mimpinya terlalu kuat untuk dipatahkan dengan kata penolakan. Lalu apakah mobilnya langsung laku? Tidak, Makmum butuh waktu hampir setengah tahun hingga akhirnya dia pergi merangselkan mimpi ke Jogja. Apakah dia diterima di kampus incarannya? Alhamdulillah, Ya! Tapi dengan persyaratan harus submit nilai toefl 500 dua bulan kemudian. Apakah Makmum kemudian menyerah? Tidak. Tiba-tiba saja Makmum sudah di Pare dan hasilnya? Allah sangat menyukai hambaNya yang tidak mudah berputus asa. Penerimaan pun dalam genggamannya. 

Seperti Makmum mengikat kuat mimpinya, seperti itulah yang harus kamu lakukan untuk menerima penolakan. Semoga sukses. 

1 komentar:

  1. Berarti maklum su makmum sudah memiliki mobil sebagai persiapan menghadapi penolakan... Abang belum punya mobil gmn? Hehehehehe

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers