UA-89306807-1

Silly Stories: Ada Apa dengan Sepatu



By the way, pas kalian lagi baca status ini aku baru saja turun bus dan berjalan menuju kelas. Aku melewati Makmal PhyKiR tempat separuh waktu selesaikan pendidikan, juga Makmal Fotonik tempat pelarianku kalau lagi jenuh. Dua puluh menit lagi kelas dimulai, aku berjalan santai karena mungkin ini adalah pertemuan dan presentasiku yang terakhir untuk mata kuliah probing. Ketika menulis ini lewat gajet, sepatu ikut terlihat silih berganti memberi ritme dalam langkah. Yap! Itu sepatu termahal yang pernah aku punya dibelikan Mak dua tahun lalu untuk lalui interview dengan percaya diri. Sepatu yang sudah aku pakai selama dua tahun ini rupanya cukup bertahan. Thanks Mak. Tapi bukan sepatu ini dalang cerita menulis diari ini. Melainkan sepatu satunya lagi yang dibelikan Mak untuk lalui micro teaching pada semester 6 dan juga PPL. Nah, sepatu itu sudah agak sempit makanya dibelikan yang baru dan tentunya sepatu itu tidak kubawa kemana-mana.

Aku sudah hampir sampai kelas. Cerita ini masih aku teruskan kok. Lumayan, hilangkan grogi presentasi. Nah, aku sampai kelewatan kelas. Hihi

By the way lagi nih, apa sih hal yang paling konyol yang pernah kalian lakukan belakangan ini?
Eeitts, nanti yaaw aku lanjutin. Teman-teman pada ajak ngobrol. 
😂

Hi, I'm back. Baru sampai asrama. Masih duduk di kursi bawah mau lanjut nulis ini sekalian nunggu teman pulang kuliah.
Lanjut yak!


Aha! Nah di semester ini ada satu momen berkaitan dengan sepatu. Jadi, selama lima hari aku pulang kampung untuk penelitian di salah satu SMA percontohan di Aceh. Yes, itu salah satu sekolah percontohan, tapi kelakuan aku hari itu tidak patut dicontoh. Bukan, bukan karena aku telat datang. Aku datang awal, bahkan sebelum upacara bendera dimulai. Sempat ikut upacara bendera setelah sekian lama tidak terlibat rutinitas demikian. So, apa masalahnya?

Begitu selesai upacara aku ngerasa ada yang lain bagian kaki. Kok rasanya enggak enak banget aja jalannya. Ketak-ketuk suara sepatuku macam sepatu murahan. Ya kalau pun sepatu murah, janganlah sampai mengusik telinga juga. Aku pun menyingkir agak jauh dari ruang kepsek dan copotin sepatu, what? Tapak sepatuku ternganga lebar minta makan. Keduanya sama! Sepatu sebelah kiri dan kanan kompak banget ngerjain aku. Asli, keringat dingin mengalir. Lima menit lagi kelas dimulai. Gimana jalannya? Gimana ngajarnya. Collect data seharian pula! Alamak! Sial banget aku.

Mau ngaku sial detik itu, serius! Malu banget, gatau mau letak muka dimana. Huf. Ampun dah.

Berdasarkan pengalaman pasang muka tembok selama di rantau, akhirnya aku gunakan saja satu-satunya jurus itu. Kesemua guru fisika di sekolah itu laki-laki pula, habis dah aku. Habis!

Tarik nafas aku pun cerita ke salah seorang guru itu, alhamdulillah responnya mengusir rasa maluku. Beliau minta aku nunggu sebentar untuk diambilkan sendal. Hatiku menjerit, alhamdulillah ngajarnya memang buka sepatu. Sip! Aku pun jadi PD aja selama penelitian.

Terus pulangnya? Haha sepatuku di lem beliau dan pulang dengan selamat. Take care my self. Peace.
He he itu deh kekonyolan aku yang emang gokil deh. Tapi terimakasih solusinya, dan yang paling penting adalah bagaimana merespon masalah seseorang. Apakah kamu dengan mentertawakan atau memberinya solusi. See you cerita konyol selanjutnya. Bye bye. 
😊


0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers