UA-89306807-1

Mantan Pembunuh yang Kini Jadi Koki



Hari ini hujan dan petir lagi-lagi menggelegar. Bedanya saya sekarang sedang berada di Bidor, sebuah daerah yang masih di Negeri Perak dan dapat ditempuh sejam menggunakan mobil. Hujan hari ini mengingatkanku pada lezatnya Tomyam. Tapi peracik Tomyam sedap ini adalah tonggak cerita kali ini.

Hari itu saya sudah di penghujung semester satu. Seperti biasanya karena belum memiliki peralatan dapur, saya memilih membeli lauk. Bedanya hari itu selepas kelas sembari pulang saya mampir di cafe KHAR dan dengan seorang pelanggan saya memesan makanan. Tapi seseorang menyapa membuat saya celingak-celinguk keheranan rupanya  asal suara itu dari pelayan yang sedang saya pesan Tomyam. “Pajan neubalek gampong?” *kapan pulang kampung?

Bukannya menjawab pertanyaan beliau saya malah balik tanya, “Kenapa bisa tahu saya orang Aceh?” Beliau tertawa. Begitulah perkenalan kami bermula. Sembari ia memasak dari dapur terus dilontarkan pertanyaan dan saya sesekali berbalik tanya. Then, saya diberi Tomyam gratis. Saya sudah menolak, tapi beliau gigih mengaku karena saya pelajar sedangkan saya gigih beliau merantau mencari nafkah untuk istri dan anak. Tentu saja saya yang kalah.

Karena pertemuan itu saya segan ke warung tempat beliau kerja. Takut malah dikira saya mau dapat makan gratis. Dikarenakan Tomyam yang paling enak cuma dari racikan tangannya, saya pun ke sana. Hari selanjutnya ia menerima harga yang harus saya bayar untuk seporsi Tomyam. Hingga pertemanan itu berlanjut begitu saja. Setiap kali berbelanja menu, kami menyediakan waktu untuk berbicara Bahasa Aceh. Hingga akhirnya saya duduk dengan wajah terheran-heran dan sebuah pertanyaan terjawab, “Siapa sebenarnya pria berambut kucil kuda ini?”

Pembicaraan kami hari itu bisa dikatakan sensitif. Awalnya saya bertanya bagaimana cara beliau bertahan di Malysia tanpa visa? Beliau memiliki kenalan di mana-mana.  Tanpa perlu visa, beliau bisa pulang. Tapi bagaimana dengan razia?

Yes! Beliau tentu pernah kena razia dan tertangkap. Dipenjara selama tiga bulan dan dipulangkan. Overall. Itu sebuah pelajaran yang diulang begitu saja. Saya menganggap ini sebuah pertanyaan lelucon untuknya, “Hahaha di kampung sendiri belum pernah merasakan dikurung dibalik jeruji, malah duluan ngerasain jeruji di Negara orang.”

Sejenak pembicaraan kami terhenti. Saya pikir beliau tersinggung. Rupanya ia sedang berusaha keras bagaimana harus mengatakannya. Sambil tertawa beliau pun membalas, “Ini kali keempat saya dipenjara. Tiga kalinya malah di Aceh.”

What?

Saya terdiam. Tentu saja saya takut. Imajinasi saya bermain sangat liar berusaha menerka, apa, kesalahan apa yang dia perbuat. Pria itu di depan saya. Sebelumnya saya tidak pernah punya teman narapidana. Bagaimana jika saya...

Saya berusaha keras percaya pada insting, bahwa lawan bicara yang membuat saya nyaman pastilah dia orang yang baik. Selalunya seperti itu. Saya meyakinkan diri dia juga bukan pengecualian. Imajinasi liar itu akhirnya terpangkas dan ketakutan itu perlahan padam setelah mendengar ceritanya.
Beliau hanya kurang beruntung. Pertama sekali kenapa ia terkurung dalam Jeruji Kajhu, Aceh Besar dikarenakan di kampung beliau tinggal selalu ada maling ayam. Hingga suatu hari beliau melihat maling tersebut beraksi dan singkat cerita berakhir dengan perkelahian ala lelaki yang berujung di kantor polisi. Ia dipenjara selama sehari dan bebas karena dukungan masyarakat tindakan beliau benar.

Kedua kali beliau kenapa dikurung dalam jeruji. Hari itu sudah tengah malam, ia mengaku baru pulang dari warung kopi. Melihat toilet rumahnya yang berada di belakang menyala lampu, beliau mengecek. Wah, ternyata ada pelaku zina di toilet milik rumahnya. Melihat adegan itu beliau tidak ingin menggubris, menutup pintu toilet kembali dan hendak masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba saja ia ditipuk dari belakang oleh pria pezina. Menerima perlakuan itu, perkelahian ala lelaki itu pula berujung di kantor polisi.

Ketiga kalinya, masih dengan kesialan yang sama tapi ini yang paling tragis dan membuat ia hijrah ke negeri seberang. Mendengar kisah ketiga ini saya berusaha keras tidak mengubah sudut pandang siapa dia. Kejadiannya juga malam hari. Kasusnya juga kejahatan, pencurian sepeda motor. Beliau tidak merencanakan akan menjadi pahlawan kemalaman lagi. Tapi melihat aksi pencuri yang sangat gigih walau sudah dikeroyok masa tetap ingin membawa lari motor, ia pun menipuk pencuri itu hingga tumbang dan malangnya ia meninggal.

Well. Saya cukup terkejut dengan kisah hidupnya. Tapi yang saya coba terima adalah, tampang memang reman tapi tidak dengan hatinya. Walau pun seseorang memilik masa lalu yang buruk, bukan berarti ia seluruhnya buruk. Satu lagi, kalau di rantau ketemu orang dari asal yang sama rasanya kayak pulang kampung dan bisa jadi keluarga gitu aja. Walau sepulang rumah dan cerita pada Mak dan Bapak, keduanya memberikan wejangan panjang. Saya percaya kok, di luar sana masih banyak yang belum saya ketahui. Eeiits, saya suka kalau mereka khawatir, rasa disayangnya itu berasa gimana gitu, untuk stok semester depan. Iya, tetap hati-hati dengan siapa berteman kok.


Itu deh, oya! Sebulan lalu saya bertemu beliau di bazar KUO. Beliau sudah tidak kerja lagi di KHAR, tapi di KUO. Wah, bakal susah kalau mau makan Tomyam sedap. Benar saja, Tomyam tempat lain tidak sesedap racikannya. Apalagi yang gratis. 

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers