UA-89306807-1

Destinasi Kejutan Kuliner Nasi Bamboo Sungai Klah


Saya selalu mendapat kejutan dari dua temanku di negeri jiran ini. Azie, dia berasal dari Keudah dan Kak Syidah dari Kuala Kangsar masih di Negeri Perak atau lebih dikenal dengan Kampung Durian. Apakah di sana ada durian atau hanya nama saja? Selama tiga jam perjalanan yang berubah menjadi enam jam karena asik singgah sana sini. Walau saya sudah sangat penasaran bagaimana rupa Kampung Durian itu. Namun apalah daya, saya dahulu terpesona dengan namanya persinggahan.

Bukankah untuk sampai pada suatu tujuan, persinggahan adalah destinasi kejutan dari sebuah perjalanan.

Maka saya akan rekomendasikan kalau ke Malaysia, bosan dengan suasana kota yang diapit megah menara kembar? Ayuk putar setirmu dan ikuti Trip kami ini.

Persinggahan pertama kami sejak bertolak pukul 11 siang dari Tanjung Malim adalah makan siang di Sungkai. Kami tiba pukul 12 siang, tapi tempat makan ini sudah penuh saja. Kemacetan sudah terasa 200 meter dari kedai makan karena pengunjung kewalahan memarkirkan mobil. Tempat parkir yang luas tidak cukup menampung kendaraan peminat Nasi Bamboo Sungai Klah ini. Maka kami pula memarkirkan mobil di tepi jalan jauh dari kedai makan. 


Jangan tanya bagaimana rupa muka saya ketika masuk ke kedai makan ini. Saya menggaruk alis yang tidak gatal beberapa kali karena sangat-sangat ramai. Ditambah lagi dengan sistem layan diri, saya bingung harus makan apa. Maka mondar-mandir, celingak-celinguklah saya dalam ketiak Makcik menu apa yang mereka pilih, apa, apa dan apa. Saya tetap saja galau, rasanya saya ingin mengicip semuanya. Tapi, pastilah mahal jika saya asal ambil. Maka saya mengekor Azie dan memilih satu set makan siang sama dengannya. Untuk lauknya saya asal pilih saja, karena di Aceh lagi suasana Makmeugang yang khas dengan makanan daging, maka saya memilih yang agak serupa dengan makanan Aceh dan pilihan saya ternyata jatuh kepada kuah daging batang pisang. 

Azie mengatakan pilihan lauk saya ini adalah makanan khas mereka untuk menjamu tamu pada acara perkawinan. Sedangkan saya menjadi pengalaman pertama makan batang pisang sebagai sayur dalam kuah daging, rasanya? Lebih kurang kayak kuah beulangong diganti nangka. Maknyuss!


Apa sih yang menjadi daya tarik masyarakat yang rela jauh-jauh untuk makan ke Sungkai? Rupanya tempat makan ini sesuai dengan jargonnya, 'Unik, Asli & Tersendiri'. Jika di Aceh terkenal nasi dibungkus dengan daun pisang untuk menciptakan wangi menambah nafsu makan, maka kedai makan ini memiliki khas tersendiri dengan memilih daun lirik atau daun kalatia (saya tidak tahu bahasa Indonesia dikenal dengan nama apa, jika pembaca tahu boleh tulis di laman komentar) untuk membungkus nasi kemudian dimasukkan dalam bambu dan barulah dikukus. Rasanya? Wangi dan menambah nafsu makan. 


Maka puaslah saya setelah mencicipi nasi bamboo dengan kuah daging batang pisang. Sedap! So, silakan mampir. Masalah harga? Hahaha ini tempat makan yang tergolong mahal. Kalian harus sediakan minimal RM15 untuk masuk ke kedai makan ini. Tapi percayalah, kalian enggak akan menyesal. Epps ada saran nih, jika kalian makan di sini. Pergilah sebelum siang. Jika sudah tiba salah satu dari kalian langsung deh pilih tempat duduk, kalau tidak kuatkan kaki untuk mengantri berdiri. 



5 komentar:

  1. Kampung duriaaann <3 <3

    Kayaknya seru kali jalan2nya ya..suka yg kayak gini, malaysia itu luas.. knp musti terpusat di menara kembar mulu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iaa kak, jgn melulu berpusat di Kuala Lumpur. Hehe Padahal banyak tempat wisata lainnya tapi sayang tidak tersoroti. Yuuk kak pergi jalan-jalan :D

      Hapus
  2. Semacam nasi bakar di Kojex peunayong nampaknya, Dek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyan kajeut peuturi lon bak Kojex beh wate wo enteuk :p

      Hapus
  3. Saya belum pernah mencobanya, tapi melalui postingan ini saya sudah bisa membayangkan betapa nikmatnya nasi bamboo :)

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers