UA-89306807-1

Pengingat Diri: Delapan Kali Yasin untuk Nek Piyeung



Pernahkah kamu membayangkan diri menjadi renta. Hidup dipapah. Saya pernah. Tiap kali melihat wajah wanita tua yang terbaring tanpa daya. Namanya Rabiatun, wanita yang telah melahirkan lelaki hebat yang ditakdirkan menjadi ayahku. Saya bersyukur ia dianugrahkan umur yang panjang. Darinya saya belajar bagaimana mencintai orang tua.

Kami lebih akrab memanggilnya Nek Piyeung. Itu karena Piyeung merupakan nama sebuah kampung dimana kisah hidupnya tertulis. Piyeung Datu selalu memanggilku untuk pulang. Ada gelisah jika saya berpergian jauh sebelum singgah ke kampung ini, karena ada Nek Piyeung satu-satunya nenekku yang masih diberikan umur panjang.

Kemarin 22 Ramadan saya pulang setelah lima hari lamanya tiba di kampung Miruek Taman, sebuah tempat saya dilahirkan yang sama-sama berkabupaten Aceh Besar. Jujur, yang paling aku kangenin dari Nek Piyeung adalah tangisannya. Dia nenekku yang paling cengeng. Saya pulang, beliau menangis. Saya pergi, beliau menangis. Saya lama tidak pulang, beliau juga menangis. Apalagi kalau ayahku yang pergi lama tidak pulang, menangis. Mungkin kudrahnya wanita sudah tua. Perasaanya menjadi lebih melankolis.

Selama perjalanan bersama adikku Nuzul, saya terngiang nenek akan menangis menyambut kepulanganku. Seperti kepulangan-kepulangan sebelumnya saya akan membuat janji sebelum mencium tangan dan kedua pipi putihnya, 'kalau nangis, enggak jadi nginap,' ancam saya yang pura-pura angkat ransel malah disambut tangis dalam tawanya karena saya cucu usil yang berani mengancam.

Namun kepulangan saya kemarin, nenekku tidak menangis tidak pula tertawa. Kamarnya bisu. Saya mengusili beliau dengan menggelitik kaki, lutut, pinggul, dan lengan tapi nenek tetap saja bergeming. Matanya sayu. Tidak ada raut wajah sedih atau senang. Kenapa dengan nenek?

Cecek menceritakan sudah tiga hari nenek nonresponsif seperti sebelumnya. Tidak tahu lagi menangis atau tertawa. Tersenyum saja tidak. Saya merasa menjadi sangat asing. Apakah nenek mengenaliku?

Sebelumnya pendengaran nenek sulit diandalkan. Kami akan saling berteriak di kamar itu. Tapi kali ini kami tidak perlu saling berteriak. Nenek mendengar sangat jelas terbukti ketika cecek meminta menjulurkan lidah dan dilakukakannya untuk kemudian disuapkan sesendok air. 

Saya menyarankan nenek di infus di rumah saja. Tapi perawatnya tidak bersedia melakukan kunjungan berkala dan ini merupakan kali ketiga nenek tidak membuat suasana gaduh. Biasanya ia akan mengetuk dinding kayu kamarnya dengan botol minum memanggil siapa saja untuk duduk atau tidur di sampingnya. 

Saya kangen nenek menangis sambil tertawa. Maka selepas shalat magrib kami berdelapan cucu-cucunya yang sedang di sana mengelilingi tempat tidur nenek dan membacakan surat yasin. Saat itulah pikiran saya lari ke beberapa tahun kemudian, jika saya nanti tua dan renta, akan adakah cucu seperti mereka yang sedia mengantar doa dan rapalan surah yasin?

Mengingat tua itu pasti, pikiran saya menggali ingatan apa yang selama ini telah saya lihat dari kedua orang tua saat mereka menjaga kedua ibu bapaknya. Tak peduli berapa rupiah diganti obat. Berapa keringat menjadi perekat cinta. Maka pemandangan yang telah orang tua saya berikanlah yang nanti harus saya kembalikan pada anak-anak untuk menjadi panduan, apa yang harus dilakukan terhadap orang tua? Sejatinya buah tidak jauh jatuh dari pohon. Baik memperlakukan ibu bapak hari ini, baik pula diperlakukan masa tua nanti saat menjadi ibu atau bapak. 

Pagi pun berganti. Biasanya ketika saya berpamitan pulang, nenek akan menangis. Entahlah, nenekku memang unik. Yang terjadi hari ini ketika saya mengatakan pulang, semburat sedih tergambar pada wajahnya. Nenek tidak bisa menangis, tapi keberatannya sampai pada siapa yang memandang.

Panjang umur untuk Nek Piyeung, segera disembuhkanNya, dan kita rayakan idul fitri bersama lagi insyaAllah. Amin ya rabbal'alamin.


___

Saya akan update bahwa sakit yang dialami nenek selama lima tahun lebih telah disembuhkanNya untuk selama-lamanya pada bulan suci yang selalu dilarutkan dalam doanya, 26 Ramadhan. Innalillahi wa inna ilahiraajiun, Allah lebih sayang nenek dan juga kekekalan hanya milikNya. Kitalah yang harus bertanya diri, apa kabar wahai iman?

Pembaca, saya harap sudi kiranya menghantarkaan doa atau al-fatihah untuk almh nenek saya, Rabiatun Adawiyah. Terima kasih. Semoga Allah membalas dengan perlindungan iman sampai ajal menjemput.

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers