UA-89306807-1

Badiuzzaman Said Nursi, Pemantik Api Tauhid Di Era Pergolakan Turki


Judul : Api Tauhid: Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujaddid   
No. ISBN : 9786028997959 
Penulis : Habiburrahman El Shirazy 
Penerbit : Republika 
Tahun terbit : November - 2014 
Jumlah Halaman : 573 



2014 lalu novelis lulusan Sarjana Al-Azhar University Cairo, Habiburrahman El Shirazy kembali melahirkan novel baru yang disambut hangat oleh masyarakat. Sebuah perjalanan panjang yang telah ditempuhnya dari 1997 hingga 2012 menjadi modal utama rampungnya novel yang benderang dengan judul 'Api Tauhid'. Sebuah novel sejarah dan tentu saja ada bumbu cinta dalam racikannya.

Penulis yang lebih dikenal dengan sapaan Kang Abik berhasil mengunci hati pembaca sejak menyentuh bab satu. Pembaca terbawa tanya, 'apa yang sebenarnya terjadi?' karena kali ini Kang Abik memercikkan konflik yang menyejukkan di awal cerita.
"Aku tidak akan membatalkan iktikafku sebelum empat puluh kali khatam membaca Al-Qur'an dengan hafalan." (Hlm.2)
Iktikaf panjang Fahmi pelajar Universitas Negeri Islam yang berasal dari Lumajang, Jawa Timur bagi tiga sahabat karibnya, Ali, Subki dan Hamza itu sama saja dengan bunuh diri. Fahmi tidak menerima saran Ali untuk beristirahat kecuali untuk makan, minum, buang hajat, dan bersuci. Pemuda itu menghabiskan hari-harinya di dalam Masjid Nabawi dengan khusyuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur`an, dengan hafalan.

Azzam yang dipegang teguh akhirnya rubuh pada hari keduabelas Fahmi beriktikaf. Fahmi dilarikan ke rumah sakit dan disaat yang bersamaan Kang Abik mengajak pembaca kembali ke masa liburan Fahmi di Lumajang. Awal sebuah sebab kenapa Fahmi sampai bertekad mengkhatamkan hafalan Al-Qur`an sebanyak empat puluh kali. 

Belum terjawab apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan siri Fahmi dengan Nuzula yang berakhir permintaan cerai oleh Kyai Arselan, Hamza menawarkan sebuah perjalanan ke Turki demi menghibur luka lara yang dipendam dalam oleh Fahmi. Maka perjalanan sejarah sosok ulama Syaikh Said Nursi pun dimulai. 

Kang Abik seolah mengajak pembaca untuk mengobati hati yang terluka dengan menelusuri kisah perjuangan Badiuzzaman Said Nursi, seorang cendikia yang haus akan ilmu. 

Jika Fahmi telah khatam menghafal Al-Qur`an sejak duduk di bangku Aliyah, bagaimana tidak terpicut kagum pada sosok Syaikh Said Nursi yang hanya membutuhkan waktu dua hari untuk menghafal Al-Qur`an. Sungguh kekuatan ingatan itu pula Syaikh Said Nursi mampu menghafal 80 kitab karya ulama klasik pada saat usianya baru menginjak 15 tahun. Kemampuannya itu, sang guru, Muhammed Emin Efendi memberinya julukan ‘Badiuzzaman’ (Keajaiban Zaman).

Syaikh Said Nursi tak hanya pandai, tetapi juga pemberani. Di usia sembilan tahun beliau sudah berpindah-pindah madrasah karena merupakan murid paling muda sehingga diganggu murid yang lebih tua. Kecerdasan beliau menjadikannya murid kesayangan guru-guru namun dicemburui murid lainnya. Tak jarang ia terlibat perkelahian demi membela diri dan berakhir pindah madrasah. Syaikh Said Nursi tidak sedikit pun gentar dalam melawan masuknya ilmu modern khas Eropa yang ingin generasi muda dididik secara sekuler. Perhatian Badiuzzaman Said Nursi untuk mencerdaskan generasi muda umat begitu besar. Usul Syaikh Said Nursi mendirikan madrasah akhirnya disetujui Gebernur Thahir Pasha yang juga sangat mencintai ilmu pendidikan. Syaikh Said Nursi pula menciptakan kurikulum yang berbeda dari madrasah lainnya. Ilmu pengetahuan modern digabungkan dengan ilmu pengetahuan agama. Beliau meyakinkan kepada masyarakat bahwa kedua ilmu tersebut dapat digabungkan bahkan tidak dapat dipisahkan.

Menyingkapi pentingnya belajar ilmu agama selain ilmu lainnya, Syeikh Said Nursi beberapa kali dipandang gila bahkan dipenjara. Tak adilnya lagi, pejabat pemerintah pun diam-diam berusaha menyingkirkannya. 

Jika dihitung, Syeikh Said Nursi telah meringkuk dari satu enjara ke penjara selama 25 tahun. Beragam tuduhan diterimanya. Namun, dibalik dinding penjara dan pengasingan Syeikh Said Nursi bukannya bersedih, ia malah bangga karena ia menemukan cahaya abadi ilahi, Api Tauhid dan memancarkannya dalam tulisan-tulisan yang dikenal dengan nama Risalah Nur.

"Saya teringat salah satu perkataan Ustadz Said Nursi, 'Siapa yang mengenal dan menaati Allah, maka ia akan behagia walaupun berada di dalam penjara yang gelap gulita. Dan siapa yang lalai dan melupakan Allah, ia akan sengsara walaupun berada di istana yang megah mempesona,' lirih Emel. (Hlm. 506).
Api Tauhid merupakan novel yang mencerdaskan. Lewat sosok Badiuzzaman Said Nursi, pembaca diajak bercermin pada sejarah masa silam untuk perbaikan masa kini yang perlahan cenderung dipengaruhi budaya barat. Kemunculan Aysel, gadis asal Turki yang sudah terpoles budaya barat merupakan contoh langsung yang ditunjukkan dalam novel ini, namun kegigihan Aysel pula untuk berubah tak luput dari ujian. Maka lagi-lagi penulis mengingatkan pembaca akan faedah menghafal Al-Qur`an, itulah yang dirasakan Fahmi ketika dipelototi tiga anjing buas kelaparan yang dilepas Carlos lelaki bengis mantannya Aysel. 
..., "Ya Allah, aku menghafal kitab sucimu semata-mata demi meraih ridha-Mu. Jangan kau izinkan daging dan darah yang digunakan untuk menghafal kitab suci-Mu dimakan anjing, ya Allah. Aku mohon demi kehormatan kitab suci-Mu, ya Allah." (Hlm. 537).
Lewat tokoh Fahmi, penulis menunjukkan keistimewaan penghafal Al-Qur`an, sedangkan pada sosok ulama Baiduzzaman Said Nursi penulis mengajak pembaca berihlah sejenak dan menikmati indahnya perjalanan menuntut ilmu dan berjuang di era yang semakin carut-marut ini. Sayangnya beberapa typo atau kesalahan dalam ejaan sedikit mengganggu dalam membaca. Selain itu penulis juga kurang konsisten dalam pemilihan kata sapaan, 'Aku' yang pada halaman lainnya beralih menjadi 'Saya'. Dikarenakan Api Tauhid ini merupakan novel sejarah yang tak lain juga menjadi novel cinta, kuota kisah ulama Badiuzzaman Said Nursi cukup menyita rasa penasaran akan kisah Fahmi dengan Nuzula. Secara keseluruhan, lagi-lagi Kang Abik berhasil memikat dan mengajak mengukuhkan api tauhid di dalam diri pembaca. Hanya Allah yang mampu membalas setiap untaian kata yang tertulis. Salam menulis.

9 komentar:

  1. Setelah baca resensi ini, jadi ingat nyaris keseluruhan cerita yang hampir terlupakan juga. Keren resensinya, kak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Helka sudah izinkan kakak meminjam-membaca bukunya. Buku yang bagus. :)

      Hapus
  2. Pengen baca Api Tauhid, tp blm kesampaian beli bukunya. Buku Kang Abik yang baru kk baca adala Ayat-Ayat Cinta 2. Keren abis, lebih keren dr Buku 1 nya.

    BalasHapus
  3. Ayuuk Kak, baca juga Api Tauhid, Kak Eky dan Kak Ihan 😊

    BalasHapus
  4. Api tauhid, kemarin liat bukunya di Paramitha, tp belum kepikiran mau beli. Abis baca resensi ini, kayanya boleh nih colek2 yayang buat beliin, hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bacaan bagus, Ayi. Layak dikonsumsi. :D

      Hapus
  5. Siap baca ni saya jadi sadar kalau yg nulis resensi ini pernah dimuat juga resensinya di majalah Kompas. Bereh kak Isni.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehhe lagi lemasing jari nih untuk bertarung lagi. :D

      Hapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers