UA-89306807-1

Jangan Terjebak! Pertemanan Adalah Hubungan Kedua Belah Pihak untuk Saling Menjaga

Hi, hi pembaca semua. Eits tunggu bentar deh, kayaknya kurang afdol kalau nggak dimulai dengan assalamualaikum. Assalamualaikum, Gaes, semoga kalian sehat dan tetap menjaga ukhuwah fillah ya. #AyoSapaSahabat

AFP Photo/Shah Marai
Nah, pada postingan kali ini aku mau berbagi cerita tentang seorang teman, sahabat bahkan sudah kuanggap seperti saudara. Tentu, kalian juga punya orang-orang spesial dalam list pertemanan bukan? Seseorang yang (mungkin) kamu bisa meluapkan marah alias jadi diri sendiri banget di depannya. Mengutip dari Imam Al Ghazali nih ya,
"Pilihlah sahabat yang jikalau engkau meminta sesuatu daripadanya, pasti ia memberi, jikalau engkau diam, dia mula menyapamu dahulu, dan jika ada sesuatu kesukaran dan kesedihan yang menimpa dirimu, dia suka membantu dan meringankanmu serta menghiburmu,"
Eiits, tenang aku enggak bakal minta suamimu kok. *terbangkan kiss

Demi appah, malamnya mau ke Aceh Tamiang, tu hari masih keliling antar undangan.
Padanya itu aku berani ngambek, terlihat sensitif, merajuk bahkan bisa disebut nyampah. Terakhir kita bertemu dia sempat ngomong gini nih, "Eh, aku heranlah sama qe, udah dua puluh lima tahun, udah master tapi masih aja suka ngambek," aku sih ketawa aja sama komentarnya begitu. Simpel banget kenapa aku ngambek, cuma karena dia pergi ke dokter dengan kakak iparnya padahal udah duluan janji pergi ke dokter bareng. Kekanakan sih, dan biarin! Resenya aku malah diamin dia dengan enggak balas pesannya. Eits tapi bentar dulu, aku enggak lagi beneran marah, cuma untuk saat itu aku lagi kesel dan butuh waktu aja menerima 'kenapa'. Aku berniat sebentar lagi membalas pesannya ketika aku sudah lupa agar dalam obrolan itu tidak terjadi pertengkaran sepele. Tapi inilah yang kenapa aku nyaman banget menjadi diri sendiri di depannya, sebelum aku balas pesannya, dianya udah ngirim pesan lagi dan nawarin pergi ke dokter bareng lagi. Dia teman yang sangat peka! Maka hari itu aku jawab gini ke dia, "karena aku tahu, kalau pun aku marah, qe enggak akan balik marah. Istilahnya kalau pun apa-apa terjadi padaku, kamu nggak bakal ninggalin aku. Makanya aku berani tunjukin marah," sahutku dibalas muka keselnya.

Aku kenal dia itu dari sebuah forum kepenulisan (FLP Aceh) pada tahun 2012 (jika tidak salah, angkatan dianya gabung) tapi ya saat itu aku cuma tahu nama, kuliah dimana dan jurusan apa. Kebetulan kita di satu kampus yang sama, dan alhamdulillah menjadi generasi terakhir yang lulus dengan nama kampus IAIN Ar-Raniry. Aku dan dia di fakultas yang sama-sama menekuni bidang pendidikan. Akunya pendidikan Fisika, sedangkan dia pendidikan bahasa inggris dan saat itu sedang dilakukan pembangunan kampus sehingga kami diungsikan sejenak ke kamus di Surin. Hingga pada salah satu hari, matahari terik banget aku bertemu dengannya di parkiran motor. Berawal dari sapaan hingga saling berbagi cerita. Dia memperkenalkan dirinya dan mimpinya yang hari itu dianggap konyol untuk mendirikan taman bacaan di desanya.

Kami mengobrol lama saat itu bahkan aku tidak yakin apakah itu pertemuan pertama. Mendengar cemarutnya masalah yang dihadapi dalam merealisasikan mimpi, saat itu aku yakin sekali kalau dia akan berhasil. Maka kutanyakan apa yang bisa dibantu? Saat itu aku sedang sangat aktif-aktifnya di forum kepenulisan (hingga sekarang), mendengar jawabannya dia memerlukan bacaan sehat untuk anak-anak agar mereka tidak lagi memilih warnet (warung internet) atau play station untuk mengalihkan dunia kanak.

Singkat cerita tergeraklah untuk mengumpulkan buku yang saat itu ramai dikenal dengan nama One Book One Man. Buku terkumpul cukup banyak dan kami antar langsung ke desanya. Siapa sangka dia benar-benar mampu merealisasikan mimpinya hingga berdirilah hingga sekarang Taman Pendidikan Masyarakat Tanyoe (TPMT). Setelah itu Ramadhan silih berganti dia tidak pernah lupa menghubungiku untuk berbuka bersama di sana walau pertemanan hanya sebatas itu saja atau tentang kepenulisan. 

Tahun terus berganti, hingga suatu hari entah bagaimana aku mendapat kabar kalau dia dirawat inap di salah satu rumah sakit dan entah kenapanya lagi saat itu aku bersikekeh harus bertemu dengannya sebelum balik ke Malaysia untuk meneruskan pendidikan master di sana. Ternyata pertemuan itulah yang telah mengikat hati kami untuk saling berbagi kabar.

Mungkin, akulah satu-satu tamunya yang menjenguk orang sakit malah berakhir enggak kunjung pulang karena curhatan belum selesai. Emaknya bakal ingat muka aku sebagai tamu yang enggak tahu diri kali ya, ke rumah sakit malah curhat, nambahin beban pikiran anaknya yang saat itu maknya juga sedang dirawat di kamar yang sama. Pokoknya aku ingat benget kejadian itu dan apa yang semua aku ceritakan padanya. Maka setiap kali pulang dan pergi, dia termasuk orang yang harus aku temui.

Belain ke Taman Sari di siang bolong, untuk?
Ya, masalah tak jarang mampu mendekatkan dua insan. Biar pun rumah kami sama-sama di Aceh Besar yang boleh diibaratkan kayak pinsil, jika aku penghapus diujung kayu dia adalah mata pinsilnya, ujung ke ujung. Ibarat lainnya seperti diary ajaib, dia selalu memberi halaman yang seolah tidak pernah habis. Di saat aku harus menumpahkan masalah, dia selalu memberi halaman yang bersih untuk kutorehkan. Demikian sebaliknya, dia bisa menulis di diary bahkan jika itu adalah pukul tiga malam, di saat manusia tidur aku akan menghapus kegelisahannya. 

Lagi-lagi benar, sahabat adalah orang yang paling marah jika sahabatnya tersakiti. Itu yang aku rasakan berkali-kali. Aku marah, dia lebih marah. Kemarahannya itu meredakan marahku dan akhirnya kami tidak punya alasan untuk memendam marah. 

Setelah sekian banyak hari yang telah kulalui bersamanya, ternyata dia cukup-sangat bawel kalau lagi galau. Apalagi tentang seseorang yang akan menjadikannya teman hidup di dunia dan juga di akhirat insyaAllah, aamiin. Aku sampe hela nafas panjang. Seumur-umur punya teman cewek yang suka curhat, enggak deh tiap menit detik ngehubungi temannya dan teriak, 'aku galaau...'. Aku pun enggak nyangka, kuat banget iman untuk siaga mendengarnya. Epss, aku enggak bakal bongkar lebih banyak lagi kok di sini. Sisanya biar tersimpan di antara kita ya, Cunull sayang. *terbangkan kiss

Flashback ke pertemuan terakhir kami sebelum Kamis besok berlangsung prosesi sakral aqad nikahnya, aku ingat diskusi panjang kita tentang pertemanan. Boleh disebut obrolan sebelum menutup masa lajang.
Sama halnya dengan membangun rumah tangga. Bahwa, pertemanan itu adalah hubungan kedua belah pihak untuk saling menjaga. Jika itu hanya dilakukan oleh satu pihak, hubungan tidak akan kokoh.
Kita yang sama-sama sadar semakin ke depan, mencari teman dekat itu semakin selektif, dan kamu lulus. *terbangkan kiss

Dijemput-nongkrong di bandara biar enggak mewek nyampe rumah.
*terbangkan kiss
Bahkan, untuk masalah yang paling tidak bisa kuceritakan pada sembarang teman, terima kasih karena telah menerimanya dan terus mengukuhkan rasa percaya diriku. Menjemputku di bandara untuk membebaskan hati yang tercekat demi seulas senyum untuk ayah. Aku senantiasa menyertaimu dalam doa, Husnul Khatimah Adnan.

InsyaAllah, tetap terjalin ukhuwah kita ya. Eiits, tapi aku enggak mau janji sih untuk tidak ngambek atau sejenisnya. Tapi, aku janji untuk menjaganya bersama. Selamat merayakan cinta, insyaAllah destinasi hingga ke jannah. Titip doa temanmu ini segera menyusul ya. 

Thank buat kalian yang udah mampir, jangan lupa komen dan follow Google+ untuk update cerita isniwardaton.com, siapa tahu postingan selanjutnya adalah tentang kamu. Wassalamu`alaikum, Gaes. Jangan lupa #AyoSapaSahabat

2 komentar:

  1. Persahabatan kalian mengharukan.
    Proud, Sista!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya the next postingan adalah komentator pertama entri ini. 😂

      Hapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers