UA-89306807-1

Cerita Pendek; Permintaan Nisa


Fais masih menggenggam secarik kertas kecil. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar taman. Riuh suara anak-anak yang sedang bermain di sana, mengganggu pencariannya. Ia sedang mencari masa lalunya. Kemudian matanya tertarik pada gadis kecil yang berdiri di hadapannya. Fais membungkuk hingga matanya beradu pandang dengan si gadis kecil. “Siapa yang memberikan kertas ini, sayang?”, tanyanya pada si gadis kecil. Si gadis kecil yang mengantarkan secarik kertas lusuh itu kepada Fais pun hanya terdiam sambil menggeleng. Merasa bosan di tanya-tanya, si gadis kecil memilih berlari meninggalkan Fais yang masih dalam kebingungan.

Ia membaca berulang kali tulisan di kertas tersebut. Setiap kali membacanya, tangannya bergetar. Hatinya pilu. Fais terduduk lemas setelah memilih kursi taman bercat hijau. Pandangannya nanar, dahinya mengerut. Ia terus memikirkan tentang kertas tersebut. Ingin rasanya menemui langsung si penulis kertas tersebut dan menanyakan apa maksud dari semua kata yang tertulis. 
 ***

“Nisa, kenapa kalian tidak pacaran saja?”, tanya Roni yang tiba-tiba muncul. Nisa melototkan matanya ke depan wajah Roni. Roni pun tertunduk merasa sudah salah bicara. Terlalu sering Nisa mendapat sodoran pertanyaan serupa, selalu di tanggapi dengan candaan. “Kenapa Nisa marah?”, Tanya Roni yang masih tertunduk. Mata Nisa masih melotot, hingga beberapa detik ia pun tertawa lepas. “Hahaha, itu konyol Ron”. Roni memicingkan mata dan memainkan bibirnya. Ia sadar sudah dikerjain oleh teman seangkatannya. 

Nisa tidak memperdulikan Roni yang sedari tadi menatapnya sinis. Ia tahu benar Roni adalah sosok yang baik dan tidak mudah marah. Nisa memasukkan sesendok lontong pesanannya. Lontong buatan Bu Imah memang sangat enak. Kelezatannya diakui oleh banyak penghuni kampus. Setelah beberapa menit diam, Roni tak tahan. Ia masih melemparkan kalimat demi kalimat agar Nisa mau jadian dengan Fais. 

Nisa dan Fais sering menjadi perbincangan orang-orang di sekitar. Mereka berteman baik dari kecil. Belajar di sekolah yang sama hingga ke perguruan tinggi pun sama. Memiliki hobi yang sama yaitu membaca. Dan beberapa kesamaan membuat mereka terlihat cocok. Namun jelas kecocokan itu tidak membuat status hubungan mereka berubah. Bagi Fais sahabat itu lebih baik. Nisa dan Fais selama ini memilih diam atau tersenyum menanggapi kecocokan mereka. 

Fais tak pernah tahu apa yang Nisa rasakan, begitupun sebaliknya. Mereka memilih diam, walau sebenarnya ada sedikit ketertarikan yang berbeda. Berbeda dengan ketertarikan masa kecil dulu ketika Fais dan Nisa bermain tanah di halaman rumah. Namun bagi Fais, perempuan cantik dan pintar seperti Nisa pantas mendapatkan pendamping yang baik pula, dan itu bukan dirinya. 
***

Tiba-tiba saja rumah Fais ramai dikunjungi para tetangga dan keluarga. Sebentar lagi akan ada acara besar di rumah tersebut. Semua ingin turut ambil bagian, begitupun Nisa. Fais masih di dalam kamar, ia bingung harus membantu seperti apa. Orang-orang di rumah begitu sibuk hingga tak ada yang memperdulikan tawaran bantuannya. 

Bosan di dalam kamar, Fais pun keluar. Ruang keluarga penuh dengan barang-barang dan manusia. Ribut, jangan ditanya. “Mengapa segaduh ini hah?!”, bisiknya dalam hati. Ia pun berjalan pelan menuju ruang tamu. Pintu keluar yang menjadi tujuan. Matanya menangkap sosok Nisa yang sedang sibuk dengan baskom di tangannya. Tanpa banyak bicara, ia menarik tangan Nisa dan membawa Nisa ke taman. Nisa berontak, namun tak berhasil. 

Sesampainya di taman Fais mengajak Nisa duduk di kursi taman. “Fais, apa-apaan sih!”, bentak Nisa sambil mengayunkan tangannya. Fais pun luluh dan melepaskan genggamannya. “Kenapa sih sibuk kali di rumah itu, aku pusing, temanin aku dong sebentar di sini”, bujuk Fais. Mendengar itu, nisa tertegun. Ia memandang Fais cukup lama, sampai akhirnya Fais menyadari itu. Nisa buru-buru berpaling. Tangganya mengambil uang ribuan dari sakunya dan pergi meninggal Fais. 

Tak lama kemudian Nisa kembali dengan membawa 2 cup es krim coklat. Disodorkan satu cup es krim ke depan hidung Fais sambil tertawa. Mereka larut dalam perbincangan ini itu. Nisa berulang kali membetulkan tempat duduknya. Fais yang menyadari hal tersebut mulai curiga. “ada yang ingin kau sampaikan?”, tanyanya sambil menatap wajah Nisa. Nisa tertunduk. Ia memainkan kakinya di tanah. “Fais…”, suara Nisa bergetar. “Aku… mencintaimu”

Fais terkejut. Ia tak pernah menyangka kalimat tersebut terlontar dari mulut Nisa. “Nis…”, suara Fais tertahan. “Iya, aku tahu ini sudah terlambat, Aku hanya ingin kau tahu. Itu sudah cukup. Oh ya, Lusa aku akan berangkat ke Pekan Baru. Aku lulus magang di sana. Maaf aku tak bisa hadir”. Nisa menjelaskan dengan suara bergetar. 

“ Kenapa pergi secepat itu, tak bisakah di tunda, kau tahu bukan lusa itu hari apa”, ujar Fais sambil melemparkan pandangan ke depan. “Ngak bisa Fais”,
*** 

Fais tertegun di belakang jendela kamar. Ia masih memikirkan secarik kertas yang diberikan gadis kecil di taman tadi pagi tadi. Ia tahu benar siapa yang menulis kertas tersebut.  “Fais, 3 hari lagi dia akan datang, bolehkah aku bermohon agar kau yang datang duluan sebelum dirinya”. Kalimat tersebut jelas menginginkan Fais untuk melamarnya. Kalimat yang pernah dikirimkan seseorang melalui pesan singkat ke handphone milikya tepat 6 tahun lalu. Fais mengurut keningnya. Ia merasakan pusing. 

Ia teringat dengan sosok sahabat kecilnya. Nisa yang ia tahu sedang magang di kota Pekan Baru, ternyata sedang dalam keadaan kurang sehat. Jiwanya terganggu entah sejak kapan. Fais menerima kabar itu dari adik Nisa yang tanpa sengaja membuka aib keluarganya. “Nis, apa kita sedang berada di kota yang sama?”, Tanya Fais masih dalam hati. 

Fais larut dalam lamunannya, tanpa ia sadari ada yang sedang berusaha masuk ke kamarnya. Fais terkejut dan segera meremas secarik kertas yang sedari tadi di pegangnya. Tampaklah sosok anak kecil yang tersenyum dengan gigi seri yang putih. Ganteng sekali. “Mirip sekali denganku”, bisik Fais sambil tersenyum. Seperti itu pula tanggapan orang ketika melihat Fais dan anak kecil itu berjalan bersama.

  “Papi, makan yok, Mami udah siap masak”,pinta si anak kecil sambil menarik tangan Fais. Fais pun menurut dan berjalan ke luar kamar menuju ruang makan. Disana telah menanti sesosok wanita cantik dan anggun. Wanita yang menjadi istrinya sejak 6 tahun silam. Sambil berjalan Fais menyempatkan memasukkan kertas tersebut ke tong sampah. Tak ingin secarik kertas menjadi api dalam rumah tangganya. Walau hatinya masih merindukan si penulis surat tersebut. “Nisa, semoga kau bahagia seperti yang kurasakan”, bisik Fais dalam hati sambil mencium kening istrinya.
***

Terima kasih sudah mampir dan baca cerpen ini yang kutemukan dalam seabrek file di laptop. Ditulis pada 16 Februari 2014, Miruek Taman. Tulisan ini sengaja tidak diedit kecuali judul menunjukkan kemampuan menulis saya, typo atau kesalahan ejaan pada tahun 2014. Setelah hampir tiga tahun menulisnya ketika membacanya kembali, kurasa tidak begitu buruk. Hanya saja alurnya terlalu cepat-flashback, konfliknya kurang gereget, dan idenya juga basi banget. Tapi saya suka karakter Fais di sini.

Kalau kalian mau bilang apa?

1 komentar:

  1. wah fais... hati hati is... kertasnya disobek dulu is...

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers