UA-89306807-1

Ta`aruf? Kamu Boleh Say No, Kok!

Berhubung ini adalah Sabtu pagi yang lenggang, saya mau berbagi pengalaman di sini nih. Bedewe, kurang afdol kalau belum nyapa dengan, Assalamualaikum, Gaes...


Eiips. Setiap hari yang udah kalian lalui pasti ada aja nih pengalaman yang bisa diceritakan kembali. Nah, postingan kali ini saya mau bagi pengalamanku ta`aruf dengan cowok lho. Ayo yang jauh merapat, yang rapat mendekat. Saya nggak bakal nyebutin secara spesifik siapa dimana bagaimana. Tapi kalian boleh langsung simak aja di sini. 

Bedewe nih, Ta`aruf merupakan suku kata dalam bahasa arab yang artinya adalah perkenalan. So, kalian pasti pernah ngalami masa-masa berkenalan dengan teman yang dimulai lewat sosial media, bukan? Yeap! Kisah pertama ini tentang seorang pemuda yang duduk belajar di kampus ternama di gurun pasir sana.

Berawal dengan sekadar chatting sampai menghabiskan rupiah yang sudah dikurskan untuk membuat panggilan internasional. Wanita mana yang tidak akan terpikat dengan suara merdu lantunan hafalannya dan mensyarah dengan memukau 30 ayat dalam surah Al-Mulk. Sempurna! Seandainya, pemuda itu tidak terjebak nafsunya atas rasa ingin tahu yang berlebihan. Saya membencinya mulai detik itu. Tidak merespon percakapan, like, bahkan komentarnya pada setiap apa yang saya bagikan. Hingga akhirnya muak, saya putuskan untuk tidak berteman lagi dengannya di media sosial. Sialnya, sikap itu membuatnya murka. Saya diberitahu oleh beberapa teman yang ambigu ketika ingin menambahkan daftar pertemanannya, nama saya ada dua. Saya sangat marah karena semua foto dan tulisan juga disamakan. Saya tidak ragu untuk menanyakan, dan yap, itu kerjaannya yang masih berambisi marah karena tidak setuju pertemanan diputuskan sebelah pihak. Saya deal-dealan dengannya, non aktifkan akun palsu itu dan saya terima pertemanannya dengan syarat jangan sesekali membuat gaduh di akun saya. Walau awalnya masih menjengkelkan, ketidakpedulian saya berakhir mengajak anak-anak berpindah tempat alias menjauh darinya ketika secara tidak sengaja bertemu langsung di sekolah. Well, sebagus apa pun image yang telah dibangunnya, bagi saya it`s nothing dan cukup saya yang tahu siapa dia. Kejadian ini benar-benar mengunci pandangan saya untuk berteman dengan mereka yang belajar ilmu agama namun belum mampu membina akhlaknya sendiri. Eits, tapi saya setuju kok, tidak semuanya seperti itu. 

Lanjut pada pengalaman kenalan dengan laki-laki selanjutnya ya. Ini tentang seorang pria yang masih gagal move on ditinggal kekasih tanpa sepatah kata setelah delapan tahun menjalin hubungan asmara. Dia adalah teman kerja saudara saya, pertemuan dengannya berlarut-larut dengan episode-episode kisah delapan tahunnya itu. Mungkin Utaran telah dikalahkannya kalau saya tidak berkacak pinggang, 'mau saya tulis dijadikan novel saja? kali aja lemparan novel jadi bikin kamu sadar.'

Yang bikin saya berkali-kali tepok jidad nih ya, tiap perkenalan seringnya saya dikira anak baru tamat Aliyah. Of course, tak jarang pula yang ajak kenalan itu anak kuliahan yang cute-cute berjambang gitu. Yuhuuu banget lho. Tapi yang menariknya di perkenalan ini lho pada gerak-gerik dan gelagatnya mereka. Percaya diri banget, begitu udah panjang kali lebar nanya kuliah dimana dan pas ngejawab lagi ambil master. Krik krik krik krik. Entah sial entah apes, ehtapi lucu banget lho ekspresi mereka. Sekejap kemudian hening cipta dimulai. 

Well, sayangnya saya tidak bisa berbagi di sini lebih banyak lagi. Hai Gaes, jangan lupa lho kalau kamu boleh berkenalan dengan siapa saja. Tapi yang memutuskan sampai mana batasannya, itu kamu sendiri. Terlebih lagi berteman dengan mereka yang laki-laki, jangan tertipu dengan ilmu agama yang dipelajarinya. Lihat juga akhlaknya, selanjutnya kamu boleh say Yes/No kok. 

Tapi dari sekian banyak perkenalan, ada satu yang paling berkesan. It`s you.

5 komentar:

  1. aihhh,,,baru asik baca udah kelar

    BalasHapus
  2. ini kayak cerpen gtu,,,
    hhehhee.
    terlalu singkat..
    tp bagus

    BalasHapus
  3. jeh. terus kenapa jadi say no sebelum ta'aruf? kan mana tau kalo belum ta'aruf. atau maksudnya memang say no sesudah ta'aruf kali ya? rada susah paham, urusan perasaan soalnya. manalah aku ngerti. entahlah, yang penting ada komen setelah baca. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca paragraf dua terakhir. He he maksud aku tuh ta'aruf dulu, kalau egk baik/cocok boleh say no. Gitu. Alahai sastrawan, Nazri. :p

      Hapus
  4. Selalu suka baca tulisannya kak Isni :D
    Semangatnya nulis itu gak pernah padam..

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers