UA-89306807-1

Mendedikasikan Sosok Guru Impian dalam Diri Sendiri

Saya masih ingat bagaimana berdebarnya jantung ketika harus memberi nasihat terhadap ratusan murid di depan halaman sekolah. Bermodalkan buku-buku motivasi yang pernah saya baca, penyampaian jadi lebih ternikmati.

Apa sih yang disukai oleh murid? Saya menyeret diri kepada masa-masa sekolahan. Pada saat duduk di bangku kelas sepuluh, sebelas, bahkan dua belas. Keinginan di masa-masa sekolah itu seringnya berubah-ubah. Ada kalanya saya menginginkan guru yang tegas, keras, terkadang saya membencinya. Tak jarang saya sangat jengkel pada guru-guru yang suka bercerita di ruang kelas. Ada kalanya saya menanti-nanti kapan ia menyelipkan cerita. Belum lagi saya sangat jenuh harus menyelesaikan soal-soal mekanika, walau berpolah begitu dibelakang layar saya malah berburu catatan teman tidak mau tertinggal satu penyelesaian soal. Begitulah.

Antusias Tyna dalam mengajar murid di sekolah pengabdiannya. 
Beruntungnya, saya tergolong murid yang nurut. Maka saya mengenali siapa murid yang nurut dan bagaimana membuatnya untuk tidak hanya nurut tetapi juga aktif. 

Kurikulum sekarang berbeda jauh dengan sebelumnya. Kurikulum 2013 atau K13 kerap disebut dalam lingkungan pendidikan. Pembelajaran yang berpusat kepada murid itu menuntut mereka untuk berpikir kritis. Murid tidak lagi hanya duduk menerima apa yang diberikan. Terlebih K13 lebih seringnya guru akan menggunakan pembelajaran kelompok, metode yang sudah diakui efektif oleh banyak peneliti. Jika saja materi mekanika dibabat habis dalam pembelajaran berkelompok, tentu itu akan mendiskriminasi murid yang nurut seperti saya. 

Jika sudah demikian, bagaimana mengajak murid nurut untuk menjadi aktif? Berikan isu, kasus, balikkan fakta dan libatkan logika. Artinya, dengan mengajak dia berpikir. Sebaiknya tidak langsung memberi mereka jawaban melainkan dengan mengajak menganalisa bersama. Seiringnya tugas guru dalam membimbing proses menemukan, pertanyaan kenapa akan lebih sering muncul menjadi pertanda bahwa murid telah bersedia dilibatkan. 

Ya, bagaimana dengan murid yang tidak ingin belajar? Ajaklah dia bermain. Murid seperti ini darahnya sudah kental dengan pemberontakan dan perlu diajak sedikit nurut. Mengantisipasi kelakuan murid seperti ini menguji kesabaran tingkat tinggi. Karena pelajaran yang saya tekuni adalah Fisika, maka solusi yang paling tepat adalah mengajak mereka bereksperimen. Melakukan praktikum bersama murid sering sekali dilewati begitu saja oleh kebanyakan guru. Selain karena alasan kurang alat peraga atau waktu yang tidak cukup adalah kurangnya inisiatif. Terlebih guru selain harus menyiapkan bahan praktikum juga lembar kerja siswa (LKS). Saya sendiri suka menyiapkan versi sendiri. Mulai dengan menyusun tujuan pembelajaran sampai pada pertanyaan dan kesimpulan yang didapat.

Fisika sendiri tidak semena-mena tentang hitung-menghitung atau praktikum. Fisika itu berkolaborasi dari ujung kaki hingga ujung rambut. Karena itulah mata pelajaran ini kurang diminati kebanyakan murid. Solusinya adalah memporsikan tiap materi dengan metode mengajar yang tepat sesuai jam mengajar yang harus dipenuhi. Hal inilah menjadi jawaban kenapa guru sebelum mengajar perlu menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Tugas guru di sekolah itu numpuk. Belum lagi aura kelas tiap pertemuan berbeda-beda. Jika murid baru saja selesai ujian pada mata pelajaran sebelumnya, tentulah mood belajarnya sedikit menurun. Di sinilah peran guru yang diharapkan murid, toleransi. Murid ingin dimengerti. Bagaimana pun, guru harus menyelesaikan tujuan pembelajarannya. Tak jarang, guru dilema di dalam kelas.

Mengajar murid dari tiga bangsa berbeda di SMK Bidor, Malaysia.
Melelahkan? Tentu saja. Tapi ketika mendengar tawa, antusias bertanya dan penasaran mereka membuat dedikasi seorang guru terasa membahagiakan.

Apakah saya akan menjadi guru? Ketika jawaban adalah iya, maka pernyataan yang muncul adalah, jangan! Sayang ijazah master kalau cuma jadi guru. Maka saya pun menjawab, nggak ada istilah sayang ijazah, yang penting ilmu bisa disalurkan pada siapa pun. 

Entah, saya mencintai dunia sekolah. Bahkan jika nanti saya menjadi seorang ibu, saya ingin tetap berkecimpung di sana. Dengan demikian saya dapat merasakan bagaimana anak-anak tumbuh pada zaman yang terus berubah-ubah. Saya sempat terpikir ingin juga mengajar segala jenjang pendidikan, agar ketika anak pulang ke rumah, saya tahu bagaimana lingkungan sekolahnya. Minimal saya tahu kalau lagi musim main kelereng, layangan, youTube, hingga larut dalam games online dan segala hal yang memungkinkan lepas pandang orang tua ketika terlalu sibuk dengan kata 'profesi'.

Akhirul kata, pendidikan itu berawal dari rumah. Tanpa RPP, LKS bahkan Silabus, kita tetap pendidik. Maka, semangat menebar ilmu sebanyak-banyaknya. Semoga Allah meridhai kepada jalan yang lurus.

9 komentar:

  1. Ini baru sejatinya cekgu beneran.
    Yg gini nih seharusnya lulusan keguruan, bukan kayak kami.. hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi mana ada, kalian juga teladan. Bagi-bagilah tips mengajar, biar kami curi. :D

      Hapus
  2. Kak nulies jga dong pengalaman ngajar anak negeri jiran. Pgalaman ngajar di mosa, dll.

    Tulisan diatas persis kayak kk yg tuturkan, saya ketika membacanya seolah mendengarkan kk yg bercerita. Istilah nye lawetnye, kana ruh dalam tulisan dren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehhe... Makasih dekmat.
      Nanti ya akak tuliskan. Simpan dulu sarannya. ;)

      Hapus
  3. "Saya menyeret diri kepada masa-masa sekolahan. Pada saat duduk di bangku kelas sepuluh, sebelas, bahkan dua belas. Keinginan di masa-masa sekolah itu seringnya berubah-ubah."

    Kami kelas tertinggi hanya sampai ENAM hehehe. Beda betul angkatan kita.

    N sepakat dgn tulisan Isni, menjadi guru memang bukan cuma menyampaikan materi ajar. Ga semua guru bisa betul-betul jadi guru.

    BalasHapus
  4. "Saya menyeret diri kepada masa-masa sekolahan. Pada saat duduk di bangku kelas sepuluh, sebelas, bahkan dua belas. Keinginan di masa-masa sekolah itu seringnya berubah-ubah."

    Kami kelas tertinggi hanya sampai ENAM hehehe. Beda betul angkatan kita.

    N sepakat dgn tulisan Isni, menjadi guru memang bukan cuma menyampaikan materi ajar. Ga semua guru bisa betul-betul jadi guru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kelas sepuluh (X), sebelas (XI), dua belas (XII) untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA).

      Sipp! Semangat, pokoknya tetap semangat bagaimanapun keadaan murid. :D

      Hapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers