UA-89306807-1

Membangkang Di Tengah Jalan; Sudah Merasa Betul, Ngapain Buat Panggilan?

Saya mempunyai seorang adik, kami bersaudara jauh. Dia tumbuh dewasa dangan kecantikan paras dan ditambah lagi pandai merias. Saya selalu ketinggalan fashion darinya tapi ia tidak pernah malu untuk hang out bareng. Dia suka mengoleksi jam tangan dan tentu saja ia mengenakannya. Namun, setahun lalu saya dikejutkannya. Kami sedang guling-guling di kamar bercerita ini dan itu tiba-tiba ia bergumam, ‘Kak, ajarin adek lihat jam dulu.’

Mendengar ucapannya pikiran saya terbawa kenang masa-masa sedang mengajar matematika untuk anak sekolah dasar tentang melihat jam. Setelah mengulang beberapa latihan, muridku langsung bisa membaca arah jarum jam. Tapi? Saya gagal mengajarinya. ‘Kak, udah capek adek belajar lihat jam. Bukan cuma kakak yang ajarin adek, mama dan papa udah nyerah.’

Yapp! Abaikan intermezo cerita di atas karena saya juga memiliki satu hal remeh yang bisa membuat orang berkerut kening, ‘kok bisa?’ Saya tidak bisa membaca peta. Google Maps? Saya menggunakannya, tentu saja! Tapi disepanjang jalan tetap saja akan menghentikan kendaraan, turun menyapa warga dan bertanya. Seperti itu pula dalam hidup, sebagian dari kita (kadang kala termasuk saya) tahu apa yang diinginkan tetapi kewalahan pada bagaimana mencapai apa yang diinginkan.


Sama halnya dengan sebuah tujuan dari perjalanan. Tidak perlu jauh, di Banda Aceh saja saya lebih memilih berhenti di pinggir jalan dan menelfon saudara sepupu laki-laki. Saya punya satu andalan dalam keadaan seperti ini, tidak sembarangan teman atau kenalan. Saya tahu dimana rumah dosen karena sudah pernah pergi sebelumnya dengan teman, tapi ketika harus menepuh perjalanan sendiri saya antara lupa atau ragu salah jalan. Tujuan saya adalah rumah dosen di Sibreh. Saya ingat sekali bagaimana halaman rumahnya, anak tangga dari ubin dengan jendela kayu menghadap pohon mangga. Saya ingat! Tetapi bagaimana saya sampai ke sana? Satu lagi yang saya tahu rumah tersebut di Sibreh. 

Yapp! Saya akan mengambil handphone dan membuat panggilan. Berkali-kali tidak peduli kalau abang sedang bersama dengan kesibukannya tetap menunggu panggilan dijawab. Jika ia sedang punya banyak waktu luang akan menertawai dan jika terlalu sibuk akan segera menuntun. Ya, begitu. Tapi tidak untuk perjalanan pada tujuan yang sama selanjutnya. 

Begitu pula dalam mencapai sebuah target, mimpi, cita, atau cinta. Kita tahu apa yang diinginkan, tak jarang gagal karena tidak tahu bagaimana mencapainya. Atau, kamu masih seperti saya yang sudah dituntun abang tiba-tiba insting, feeling-kah itu atau dejavu-kah itu tiba-tiba menjadi yakin belok kanan adalah shortcut untuk sampai dibandingkan apa yang telah dituntun. Yapp, saya pernah mengalaminya dan hasilnya saya terjebak lalu kembali melakukan panggilan. Cuss, mendengar repetan sampai kenyang barulah kembali ke jalan yang benar dan sampai.

Perjalanan yang seharusnya sudah sampai jadi terhambat karena, ya mungkin kamu bisa menerka sendiri apa yang menjadi penyebab belum tercapainya sebuah keinginan. Ingin menikah? Jangan-jangan kamu (saya) salah melakukan panggilan selama ini. Panggilan sudah benar tapi membangkang di tengah jalan?

Sampai jumpa di entri selanjutnya, wassalamu`alaikum manteman. :)

0 komentar:

Posting Komentar

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers