UA-89306807-1

Mau Wisuda? Telan Dulu Pahit Manisnya Belajar


Alhamdulillah dapat anugrah dari Dekan, 

Setelah menempuh studi selama tiga semester di Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia dibawah beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) jalur Afirmasi akhirnya saya berkesempatan mengenakan pakaian toga garis dua. Ditanya rasanya? Bisa lulus GOT juga anak kampung ini. Hehehe. Saya benar-benar masih ingat bagaimana berjuang mendapatkan beasiswa, bersikeras menulis essay terbaik, berlatih wawancara. Hari-hari yang dilalui sebelum dan selama Program Keberangkatan (PK-25) di Wisma Hijau Jakarta. Bahkan yang paling lekat dalam ingatan adalah hari-hari sesudah pasca PK, jatuh cinta lalu patah hati, galau bertubi urusan visa belajar dan ketakutan untuk pertama sekali hidup di perantauan dalam waktu yang lama. Overall, dalam setiap lelah ingin menyerah saya berbicara pada diri sendiri.
Why me? It`s you. Allah udah percaya saya mampu, jadi kenapa malah diri sendiri yang mikir tidak mampu? Allah sudah memilih, kenapa seolah menyatakan pilihan Allah salah? Kenapa tidak mencobanya sedikit lagi, juga bersabar sedikit lagi.
Saya tersenyum ketika bangun tidur karena Ibu sudah dahulu terjaga dan segera meminta bergegas. Hari itu adalah hari wisuda master saya dan kehadiran Ibu di sisi, artinya salah satu mimpi saya ketika pertama sekali naik pesawat terbang sudah tercapai, ingin sekali Ibu merasakan keindahan semesta dari atas langit. Well, lagi-lagi semua berawal dari mimpi yang kemudian berlari kecil dalam doa hingga jatuh bangun bersama usaha. 

Alhamdulillah didampingi Ibu. :)
Beruntungnya lagi, saya wisuda di hari pertama dan mendapat jadwal pagi. Artinya, saya akan diberi ijazah master oleh permaisuri Negeri Perak, Zara Salim Davidson yang sangat cantik dan anggun. Prosesi kedatangan beliau dengan balutan jubah diiring oleh pengawal istana yang menggendong tongkat kerajaan. WOW! Rasanya saya sedang berada di dalam istana kerajaan.

She is the wife of the Sultan of Perak.
Lalu momen yang paling mengharukan adalah pembimbing tesis saya, Prof. Rosly yang keesokan harinya akan terbang ke Palembang, bela-belain kembali ke lokasi wisuda hanya untuk mengabadikan hari bahagia saya. "Saya bangga pada kamu, pulang dan ajarkan cikgu-cikgu Aceh," ucapnya yang dimata saya beliau selalu berjiwa muda. Teringat ketika hari ulang tahun beliau yang ke-61, saya dan Azie sedang sibuk memilih kue ulang tahun malah beliau berpesan, "jangan lupa bawa tesis." Ajleeb deh!

My the best Lecture, Professor Rosly
Berbicara tentang wisuda master, terlebih saya dilahirkan berkelamin perempuan tentu saja cemoohan tangan siapa yang akan digandeng di hari bahagia sempat menggoyahkan hati ini menahan marah. Terlebih di saat-saat ingin sekali menyobek tumpukan jurnal, memberantakkan buku-buku bahkan menghancurkan laptop. Sementara itu dengan gamblangnya dia yang mengaku sahabat malah memanas. "Untuk apa wisuda kalau nggak ada tangan yang bisa digandeng?" Ah, ternyata saya masih ingat ucapan itu. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya.

Saya meletakkan gadjet dan memilih berjalan keluar kamar. Rumah yang hanya berinterior tiga kamar tidur, kamar mandi, dapur, ruang makan dan saya memilih balkon untuk menetralkan emosi. Balkon itu menghadap lapangan olahraga yang berisikan dua lapangan badminton, dua lapangan futsal, juga ada lapangan basket di sana. Dari balkon saya juga bisa melihat bukit hijau diseberang jalan. Pemandangan yang meneduhkan. Lalu kembali dan membalas pesannya. Saya tidak tahu apakah itu adalah jawaban yang tepat atau tidak, tapi saat itu saya tidak sempat untuk memikirkan tangan yang dimaksud olehnya. Ayah adalah satu-satunya tangan yang ingin kugandeng. Bahkan jika saya punya suami, tanpa tangan Ayah mungkin bukannya memilih istirahat ketika lelah melainkan MENYERAH. 

Teman seperjuangan, keep fighting girls.
Namun, apa saja yang telah dilalui. Siapa saja yang telah mendukung dan memeluk tubuh ini. Ketika beberapa memilih pergi dalam balutan tawa, tidak mau peduli atau sinis, kalian malah mengeratkan genggaman. Doa yang telah menembus jarak. Hati yang terpisah oleh tabir. Terima kasih sudah membersamai diri ini.

Akhir kata, pendidikan tinggi bukan untuk menguasai panggung sandiwara karena dalam hidup ini masing-masing dari kita adalah pemeran utamanya. So, peranan seperti apa yang ingin dimainkan?

Opps, pengen teriak, 'terima kasih LPDP dan semuanya. Love you until jannah.' 

10 komentar:

  1. Love it, manisnya wisuda akan terasa setelah mengalami roll caster yang bermuara pada sebuah terminal "skripsi/tesis"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuhuu, ayo Aula semangat ya kejar-kejaran sama beasiswa. Aula pasti bisa. :)

      Hapus
  2. Keren kak... Salut banget 😊

    BalasHapus
  3. Congratulations Isni, barakallahu fii ilmi, semoga cepat terkabul kembali semua doa2 baiknya ya, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukran, Ka Hafnidar. Alhamdulillah amin. :)

      Hapus
  4. Senangnya yang sudah jadi Master! Keren kak isni ijazahnya bisa langsung diberikan oleh permaisuri Negeri Perak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, alhamdulillah kena sesi pertama dari 5 hari wisuda. Terima kasih Yelli. :)

      Hapus
  5. Wess selamat ya mba untuk wisudanya, jadi pengen cpet2 wisuda wkwkwk

    Salam dari www.mltazam.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, semoga kamu cepat wisuda ya. :)

      Hapus
  6. Belajar banyak hal ya Isni, sukses selalu ya termasuk untuk blog yang cerah ceria ini :)

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers