UA-89306807-1

Laki-laki Ini Baik, Pasti Pintar, Cum Laude sih, Jodohkah?



Semua ini berawal karena saya menjabat sebagai ketua FLP (Forum Lingkar Pena) Wilayah Aceh yang mengharuskan saya menjadi pribadi yang lebih terbuka dalam berinteraksi. Entah bagaimana salah satu langkah yang saya pilih adalah dengan membuka jalur pertemanan di dunia maya Facebook. Terbersit ingatan pula saat ini tentang pengalaman teman membuka interaksi lewat dunia maya dan berujung ketemu jodoh. Ya, siapa tahu cerita yang sama berlaku padaku. 'Ah, Isni. Luruskan niat, luruskan niat,' ingatkan pada diri sendiri.

Saya membuka laman permintaan pertemanan yang lebih dari 700-an tidak saya terima. Yap, saya sangat selektif dalam menerima pertemanan di Facebook. Biar riwayat teman yang sama sampai puluhan, kalau nggak kenal yowes good bye. Tapi hari itu saya menurunkan standar hanya jika foto profilnya sendiri dan profilnya jelas plus berpendidikan. Confirm!

Yes, salah satu dari hanya sekitar 30-an yang sanggup saya seleksi adalah lelaki itu. Menggunalan kaos merah berkerah berpose menyilang tangan di dada dengan senyuman percaya diri seolah berkata, 'why you so late?'

Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Biasa ucapan salam dan perkenalan. Menariknya, saya tipe yang susah berkomunikasi dengan orang baru dan bahkan orang lama, ya jahatnya boleh dikata saya tidak suka dia. Biasanya saya akan berbalas singkat seperti ayo kita akhiri obrolan ini karena tidak ada sesuatu yang berisi, okey?

Namun, obrolan kami menjadi panjang dan semakin panjang. Mulai dari pengalaman menempuh pendidikan yang saling merendahkan diri. Its low profile dan saya yakin laki-laki ini baik, terlihat dari caranya bertutur kata. Dengan latar belakang lulusan cum laude pendidikan Matematika dan Magisternya pun cum laude. So excited!

Lantas, apa saya percaya? Okey, saya tipe yang tidak mau memperumit diri sendiri dengan percaya atau tidak. Just go on. Allah menyertaiku dalam lahfaz-lahfaz bismillah.

Hingga dalam waktu yang super singkat karena dalam hitungan jari sebelah tangan lelaki itu meminta perkenalan ini lebih jauh tepatnya untuk menikah. Dan saya tidak terpikir kenapa begitu cepat. Ya! Kenapa begitu cepat? Anehnya jawaban saya pun, 'boleh'. Caps lock ya, jawabannya BOLEH. Oh, Tuhan. Sungguh engkaulah yang berkuasa dari segalanya.

Maka berlanjutlah dengan pertanyaan-pertanyaan umum tentang keduanya. Mulai dari keluarga, anak ke berapa, Kakak adik bagaimana dan sampai sudah baca kitab apa saja selama ini. What? KITAB? Itu bukan dimaksud adalah buku cerita sejenis novel, jurnal, cerpen, kan?

So well, saya pun menjawab jujur cuma belajar kitab masailai ketika ngaji TPA dan ya sesekali ngaji kitab kuning hari Minggu sama Tgk. Sri di kampung.

Hari itu saya tidak berbalik tanya, tapi keesokan harinya saya penasaran apa kitab yang telah beliau baca selama ini. Begitu melihat balasan beliau, saya tidak kenal satu pun. Saya merasa, 'Halo, Is. Kemana aja selama ini hah?'

Jleb!

Selanjutnya kita atur waktu bertemu, jam makan siang di tempat makan umum. Sebenarnya saya takut hal sebelumnya terjadi, ya baru bertemu sekali udah bertanya ini itu ngatur ini itu dan seolah-olah I said yes to him. Sebaliknya, obrolan panjang lebar hari itu tidak sedikit pun mengarah ke menikah. Ya, beginilah yang saya suka, membuat saya merasa nyaman. Lagi-lagi bahasnya apa? Pendidikan. 

Hanya berselang dua hari saja, beliau menanyai kesediaan saya menjadi istri. Wow!

4 komentar:

  1. continue lagi isniii... saya mahu tahu kisah selanjutnyaaa hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dah post, jom baca lanjutannya... hehhe

      Hapus
  2. Balasan
    1. Baca lanjutannya lagi dek, udah kk post tuh :D

      Hapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers