UA-89306807-1

Saya Dilamar? Tapi Kok Rumit Begini Ya

Sebelum lebih jauh dan biar nyambung, silakan berkunjung ke part 1.

****


Mendegar lamarannya saya tidak terkejut tapi cukup WOW. Ya, begitu cepat dan terbilang sangat cepat. Saya dilamar? Ya walau bukan kali pertama tapi cukup dilema dalam hal memberi jawaban. Terlebih ketika ia berkata, 'kalau mau berjumpa sekali lagi boleh jangan nanti salah memutuskan, kalau saya diterima alhamdulillah kalau tidak bisa coba lagi. Jangan takut bilang tidak, saya nggak masalah dengan apapun jawaban kita bisa tetap berteman dan mungkin bisa bantu carikan jodoh,' bahasnya.

So, apa yang saya rasakan adalah. Pertama, saya untuk kali pertama tiba-tiba menjadi sangat pemalu ketika diajak bertemu sekali lagi. No, bukan saya tidak suka orangnya bahkan saya nyaman. Tapi entah, saya malu jika harus bertemu sebelum memberi jawaban yes or no. Bagaimana ya mendeskripsikan perasaan malu itu. Okey seperti ini, kalian pasti pernah melihat video muslimah yang baru sah ijab qabul dan ada salam takzim, ya muslimah itu tahu dirinya halal bagi sang suami tapi masih malu menyodorkan tangan. Ya, rasanya saya baru mengerti kenapa muslimah itu sebegitunya sih. Ngerti? Enggak? Udah, abaikan kalau kalian nggak ngerti dan semoga merasakan sendiri kemudian. Hehe

Karena saya tipe yang easy aja ketemu dengan teman laki-laki dan lho, seumur-umur udah puluhan kali jatuh cinta kok nggak ada malu begini sih. Lha, ini kok malu banget kalau ketemu lagi dan ia ngelihat wajah saya. Wuuuiis. Aneh pokoknya. Dan akhirnya beliau pun mengerti dan bersedia menunggu jawaban saya.

Nggak kepoin doi, Is?
Ada dong, ada! Tapi rumit banget nyari tau tentang beliau ini. Lihat riwayat pertemanan yang sama sangat sedikit dan yang paling akrab cuma dengan Kak Vina. Eits, Kak Vina FLP berteman dengan beliau? Kok bisa? Kan Kak Vina jurusan Bahasa Inggris dan beliau Matematika. Udah ah, langsung japri aja Kak Vina dan rupanya nggak kenal-kenal banget alias berteman di Facebook ajjah gitu. Tapi Kakak itu super luar biasa niat bantu kepoin lewat temannya dengan syarat nggak terindentifikasi modus kita apaan. Assiikkk. Hahaha

Takut tidak ada hasil saya pun berpikir keras gimana cara kepoin beliau tapi nggak ada yang tahu. Jangan heboh-heboh nggak jelas gitu lho. Dan akhirnya teringat ke sahabat kecil namanya Yuda dan panggilan sayang dari kecil adalah Dekbiet yang merupakan adik letting  beliau di Pendidikan Matematika IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Tapi Dekbiet cuma jawab klise banget dans sempat bikin saya keki. Namun setelah dipahami, ada benarnya juga apa kata Dekbiet. 'Saya nggak bisa pastikan beliau itu baik atau enggak, menurut saya lihat dan kenal hanya sebatas abang letting beliau orangnya baik. Tapi coba Isni pikir sendiri bagaimana beliau berkomunikasi, apa ada yang melenceng? Kan sudah bertemu, gimana penilaian sendiri?'


Menanggapi pertanyaan Dekbiet ya beliau itu baik, sopan, care dan nggak ngatur. Beliau bisa diajak diskusi. Itu point penting dan saya suka. Asiikkk, caps lock ya SUKA. Hahaha

Mau kepoin sama yang lain, kan banyak teman-teman di Matematika juga tapi berat banget dan malas kalau di-cieeeciee. Apaansih kan.

Akhirnya saya beralih curhat ke sahabat duka lara Husnul, Leny dan Kak Aini. Dan, keduanya mengatakan hal yang sama. 'Dari cara qe cerita, sebenarnya udah yes,' tebas Husnul usai mendengar ceritaku sembari mengawas final mahasiswanya. What??
'Sebagai pertimbangan dari aku ni ya, pilihlah laki-laki kalau qe pergi kemana-mana dengannya bukannya minder tapi malah bangga. Aku sih bangga kemana-mana pergi sama Bang Haikal,' tambahnya sambil tawa cengengesan entah apa yang dipikirkan ibu hamil muda itu. 

'Ayo, Is... mikir apa lagi, istikharah lagi aja deh,' Leny membungkus kegundahanku yang seolah tiada habisnya saat itu.

Sementara Kak Aini yang merupakan Kakak Ipar, 'Dekchan, dari cara dekchan bercerita saja udah yes. Apa yang dekchan ragu? Apa yang dekchan nggak suka dari beliau?'

Apa yang saya tidak suka? Sejenak saya mencari apa yang tidak disukai dan menimang yang bisa ditoleransi. 'Tinggi?' tambah Kak Aini lagi.

'Nggak juga kak, bahkan selama ini shalat istikharah malah kayaknya Allah terangi mata Isni dikasih nampakNya laki-laki kurang tinggi baik akhlaknya, bertanggung-jawab, keren karirnya dan nggak ada yang menghujat fisiknya. Ada Kak, kayak teringat satu pesawat dengan Pak Farid, Abua Qismullah udah kayak ayah sendiri selama S2 di Malaysia, Ustaz di sekolah, si fulan si fulen, ayah pun mana tinggi-tinggi kali,' jawab saya.


'Kalau gitu apa juga?'
Saya pun terbahak, ya, apa juga permasalahannya? 
'Ayah dan Mamak bilang apa?' sambungnya lagi.


Ah iya, saya lupa menuliskan bagian bercerita tentang beliau ini pada Mamak dan Ayah.
*to be continue...

4 komentar:

  1. Yeee ada nama kakak asiiik... Happy for you dindaa qu syg 😘

    BalasHapus
  2. Bisa jadi novel kak, kalau bersambung terus

    BalasHapus
  3. Bisa jadi novel kak, kalau bersambung terus

    BalasHapus

Beri jejakmu di sini yaaa... nanti saya balik ngunjung. ^0^
Salam kenal.

Google+ Followers